Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (Kepustakaan Populer Gramedia, 2018)

Sebelum buku ini terbit, belum ada yang mengupas secara komprehensif tentang keresahan yang terjadi dalam ranah jurnalistik khususnya di bidang musik. Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada bulan Desember 2018 ini ditulis oleh Idhar Resmadi, seorang penulis dan juga dosen Fakultas Industri Kreatif Telkom University Bandung. Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (Kepustakaan Populer Gramedia, 2018) bukan omong kosong belaka, sebab Idhar Resmadi memiliki latar belakang yang sama sebagai seorang jurnalis musik.

Ia pernah memimpin redaksi sebuah media musik kenamaan, Ripple Magazine, menulis dan berkontribusi di banyak antologi diantaranya Music Records Indie Label (Dar Mizan, 2008), Like This: Kumpulan Tulisan Pilihan Jakartabeat.net 2009-2010 (Jakartabeat, 2011), Based on A True Story Pure Saturday (UNKL Books, 2013), dan Peka Kota Hub: 13 Tahun Hysteria Seni Untuk Kota (Gerobak Hysteria, 2018).

baca juga: “Laut Bercerita” tentang Cinta dan Keluarga di Tengah Huru-hara 1998

Bukunya kali ini terbilang menarik. Sesuai judul bukunya, Idhar mengangkat isu seputar perkembangan jurnalisme musik dan masalah-masalah di selingkar wilayahnya. Idhar mengejawantahkan keresahannya lewat 8 buah bab beraneka pembahasan mulai dari napak tilas sejarah media musik dan perkembangannya di Indonesia, pandangan dari berbagai sumber, masalah-masalah yang dihadapi jurnalisme musik, opini, ragam tulisan musik, hingga reportase perjalanannya menghadiri Konferensi Musik Indonesia (KAMI) yang digelar di Taman Budaya Ambon 2018 lalu.

Sumber: idhar-resmadi.net

Pembaca diajak menyusuri napak tilas media musik Indonesia dari waktu ke waktu, mulai dari radio NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschapij) sebagai cikal bakal media musik pada masa sebelum kemerdekaan. Jurnalisme musik pada masa tersebut belum mengangkat isu mengenai industri musik. Sementara, kritik musik yang berkembang pada masa itu merupakan kritik budaya yang objektif. Hingga memasuki dekade 1960-1970-an yang digadang-gadang sebagai puncak kejayaan media musik Indonesia dengan hadirnya majalah seperti Diskorina dan Aktuil dengan isu yang lebih subjektif dan dekat dengan tren anak muda.

Sejauh yang ditulis dalam Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (Kepustakaan Populer Gramedia, 2018), penulis banyak menyampaikan kendala yang dihadapi jurnalis media cetak di tengah gempuran internet dan media daring sekarang. Jurnalisme musik Indonesia saat ini dinilai kurang menarik sebab masih banyak jurnalis yang tidak memiliki kecakapan dalam menulis musik, terlebih media-media yang hanya mengandalkan rilis pers. Hal ini berimbas pada minimnya tingkat apresiasi masyarakat terhadap musik Indonesia.

Beberapa masalah yang disampaikan dalam buku ini pun masih sangat relevan dengan yang terjadi sekarang, salah satunya adalah fungsi media sebagai pembentuk selera dan opini masyarakat. Karenanya, gesekan antara “Kampungan vs Gedongan” tidak benar-benar tuntas, ia menjadi kontestasi lain bagi penggemar musik dengan isu yang berkembang sekarang. Ambil contoh saat ini, “Sobat Indies vs Elitis Musik”.

Jurnalisme musik berbeda dengan jurnalisme pada umumnya. Salah satu aspek yang paling menonjol terletak pada tulisan yang bersifat subjektif. Subjektivitas jurnalis musik dipengaruhi oleh medan sosial dan medan kultural. Kalaupun membutuhkan objektivitas, ialah keberimbangan antara opini dan fakta dalam tulisan. Dalam buku ini, Idhar Resmadi berkali-kali menekankan bahwa jurnalisme musik harus terbebas dari segala kepentingan. Terlepas itu, jurnalis musik juga dituntut memiliki wawasan serta pengetahuan luas.

Hadirnya internet serta menjamurnya media-media daring, platform digital dsb. mengubah lanskap jurnalisme musik saat ini. Terlebih pasca reformasi, dimana orang-orang tidak perlu berada dalam institusi pers tertentu untuk menjadi seorang jurnalis. Dengan kata lain, tradisi jurnalisme hari ini benar-benar berubah.

Pembaca kemudian dihadapkan pada satu pertanyaan, apakah jurnalisme musik masih diperlukan? Jawabannya tentu masih, ia tidak mati. Ia berubah menjadi bentuk lain mengikuti tren dan teknologi zaman. Hal ini sejalan dengan prinsip konvergensi yang dicetuskan Roger Friddler yang menyebut bahwa media bersifat ko-eksistensi dan ko-evolusi. Ia akan terus bertahan sebab media bersifat adaptif dan kompleks sehingga dapat menyesuaikan ke suatu media baru. (hal. 177).

Media musik saat ini pun harus cermat dan inovatif dalam menyampaikan informasi kepada khalayak. Eksklusivitas jurnalis musik telah hilang saat ini. Masyarakat dengan mudahnya dapat mengakses musik yang mereka kehendaki tanpa membaca terlebih dahulu ulasan seputar kualitas musik yang akan mereka dengarkan. Jurnalis musik kini harus sebisa mungkin memanfaatkan produk-produk teknologi yang menarik seperti vlog, podcast, Instagram, YouTube dsb.

Sementara itu, ketika media cetak mainstream tengah berada di senjakalanya, media alternatif seperti terbitan independen maupun zine justru makin bergeliat dan menjadi harapan baru bagi jurnalisme musik. Selain memiliki konten yang subjektif, anti-mainstream, serta diusung semangat antiotoritarian, media ini dapat bertahan karena sifatnya yang intim antar anggota komunitas.

baca juga: Menilik Perkembangan Media Alternatif Melalui Festival Aksara 2016

Idhar Resmadi, seperti yang ditulis dalam buku ini juga berharap agar Indonesia memiliki lebih banyak buku biografi musisi-musisi legendaris yang bisa jadi rangkuman sosiologis serta historis untuk melihat peristiwa-peristiwa di masa lampau. (hal. 185)

Foto dok. KAMI

Pada bab terakhir buku ini, Idhar menuliskan reportase perjalanannya di kota Ambon menghadiri KAMI 2018. Terlepas dengan apa yang terjadi sebelum dan sesudah KAMI 2018, ia mengapresiasi upaya pemerintah membuat panel diskusi berskala nasional untuk mendorong masyarakat mencintai musik Indonesia salah satunya dengan menyebarluaskan wawasan sejarah musik dan kritik musik melalui praktik jurnalisme musik profesional (meski ternyata malah menghasilkan RUU penuh masalah. Tolak!).

Terlepas itu semua, buku ini merangkum begitu banyak informasi dengan konteks yang relevan, didukung dengan data yang lengkap. Idhar Resmadi juga membahas ragam tulisan musik serta perkembangan jurnalisme sastra sebagai penggugah pola penulisan jurnalisme yang konvensional. Buku ini juga didukung dengan tabel dan infografis yang menarik. Meski dijumpai kesalahan kecil seperti typo dan beberapa bab atau paragraf (yang dengan kemampuan saya membaca) seolah ‘meloncat’, namun buku ini tetap layak untuk ‘disantap’ terutama musisi, jurnalis bahkan seorang amatiran macam saya. Justru buku ini baik dibaca siapapun bahkan di luar disiplin ilmu jurnalistik atau musik guna memperluas wawasan seputar sepak terjang ‘jurnalisme musik dan selingkar wilayahnya’. Masih ada segudang informasi dan poin-poin penting yang (menurut saya) akan lebih baik dan lengkap jika anda membaca bukunya hingga tuntas.*

Oleh Afriyandi Wibisono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here