Foto oleh Adhi Nusantara

Dalam ekosistem musik tentu kita mengenal audio engineer. Profesi sekaligus lakon penting dalam proses rekaman musik atau pertunjukan langsung. Audio engineer juga membantu menyelaraskan dan memoles suara sedemikian agar hasilnya optimal.

Nama-nama kawakan diantaranya Adi Oebant (Strato Studio), Pepen (Kayken Studio), Antok S. Riyanto (4WD Studio) dan Wowod (iWod Creative Labs) adalah segelintir audio engineer yang kerap terlibat dalam pemroduksian lagu ataupun album musisi Semarang. Beberapa musisi juga sempat merasakan kehadiran Hamzah Kusbiyanto (AL Studio) yang diakui sangat peka dalam menjaga kualitas rekaman (sekarang Hamzah berada di Venom Studio, Jakarta).

Dari pengamatan pribadi, musisi di Semarang punya engineer ‘langganan’ yang dirasa mumpuni dan mampu menjembatani mereka dengan sound yang diingkan. Mereka percaya, tiap engineer memiliki karakter masing-masing yang cocok pada genre musik tertentu.

Selain membantu sesi rekaman, audio engineer juga kerap diperbantukan dalam pertunjukan langsung. Salah satu yang paling familiar di Semarang adalah Eka ‘Kodok’ Hariyanto. Seorang audio engineer yang telah melanglang buana ke berbagai panggung pertunjukan, mulai dari dalam kafe maupun festival bergengsi. Menangani sound band-band besar salah satunya Pure Saturday selama tur beberapa tahun silam.

Paling muda, Semarang memiliki Paw Studio dalam urusan rekam instrumen, vokal, mixing hingga mastering harga teman–apabila tidak ingin disebut murah. Semua dilakukan tak lain oleh M. Ryan Wibowo, yang juga gitaris band Hypotenusa. Selain Paw, ada satu lagi studio rumahan yang dioperasikan oleh pelaku musik. Adalah Orange Silos Studio yang diprakarsai Ahmad Luthfi Maajid, gitaris band indie rock Sugar Bitter.

Foto dok. Sugar Bitter

Uphi (panggilan akrab), awalnya coba merekam lagu di kamar. Ia kemudian memproduksi sendiri album band-nya, Spark Plug (Social Geeks Records, 2015), mulai dari rekaman, mixing dan mastering. Hingga beberapa rekan musisi di Semarang juga ikut tertarik di antaranya Redam dan Soundgrass.

Setelah rilis album dan menaklukan beberapa kota di Pulau Jawa dalam rangkaian tur promosi, Uphi hijrah ke Jakarta. Ia melanjutkan pendidikan di salah satu kampus kenamaan, SAE Institute Jakarta untuk menekuni lebih jauh perihal audio engineering dalam industri kreatif.

Sembari menempuh pendidikan, ternyata Uphi juga banyak melakukan hal lain. Di Jakarta ia dikenal banyak menangani sound musisi seperti Piston, Godplant, Rayssa Dynta, Reality Club dan MURF saat pertunjukan langsung. Ia juga memprakarsai proyek musik semi-solo, Ranu Pani, dengan karya yang patut disimak!

Apa kabar Orange Silos Studio, masih jalan?
Enggak, kan itu studio rumah tadinya (tertawa). Tapi secara pribadi masih terima job buat mixing dan mastering, gak pake Orange Silos.

Sekarang sedang menggarap proyek apa?
Ada band namanya Puff Punch, mau rilis single mereka. Band adiknya YouTuber, Fathia Izzati (Reality Club), siapa tahu bisa ikut tersohor (tertawa). Mereka bawain musik garage pop gitu, kayak Frankie Cosmos, Alvvays dsb.

Uphi saat membantu rekaman Puff Punch. Foto dok. Puff Punch

Selama kuliah di SAE, apa saja yang kamu pelajari?
Kebetulan saya ambil jurusan Audio Engineering, semua bidang audio dipelajari. Ada live sound, studio production, electronic music production, post-production (mengerjakan sound buat film) dan masih banyak lagi.

Beberapa waktu terakhir kamu juga menangani sound untuk Piston dan Godplant saat pertunjukan. Bagaimana kamu bisa terlibat bersama mereka?
Iya, kalo sama Piston malah udah ikut terus. Mereka yang ngajak, kebetulan kenal pas Piston tur di Semarang (“Titik Nol Tour 2017”, red) dan sempat ngobrol sama Yuli Onta (pemain bass Piston, red).

Kalo sama Godplant lumayan sering juga. Waktu itu kebetulan Godplant sama Piston sepanggung di acaranya Maternal Disaster (“Dsstr Showcase Vol.15”, red) di Bandung. Godplant gak bawa engineer, nah, jadi bareng sekalian. Terus dari situ jadi beberapa kali ikut (Godplant).

Piston live “Coalition”, Semarang (21/7/2017). Foto dok. Piston

Bagaimana pengalamanmu menangani sound di setiap pertunjukan mereka?
Seru plus tegang banget soalnya waktu kita gak banyak buat soundcheck. Buru-buru banget rasanya, sering panik. Apalagi kalo band-nya belum begitu ‘besar’, pasti makin diburu-buru. Seru pastinya karena involve di acara-acara, nonton gratis, bisa masuk backstage, jalan-jalan, dan ada kepuasan tersendiri kalo hasilnya bagus.

Band mana yang paling ribet dan paling mudah, sejauh yang pernah kamu tangani sound-nya saat pertunjukan langsung?
Paling simple, sih, Piston, Godplant, dan band-band (format) serupa. Tapi saya gak bilang gampang, karena tetap ada kesulitan tersendiri. Hanya saja memang set-nya simple.

Paling ribet yang pernah saya tangani Rayssa Dynta (formasi lama) dan MURF. Mereka punya banyak kombinasi elektronik, jadi harus mengatur masing-masing channel. Banyak peralatannya, monitoring, belum lagi kalo ada yang gak bunyi, cari sumber masalahnya dan lain-lain (tertawa).

Uphi (paling kiri) bersama MURF saat tampil di “LaLaLa Festival 2019”, Bandung (23/2). Foto dok. Gamaliel

Setelah banyak menangani musisi di Jakarta dalam pertunjukan langsung, menurut kamu apa yang menjadi kekurangan musisi Semarang dalam segi sound?
Sebenarnya kurang orang yang jadi tim produksi aja, sih. Kru dan sound engineer itu penting banget, sementara di Semarang saya lihat sepertinya masih sedikit yang aware akan hal itu. Tata suaranya sudah cukup bagus, kok. Melihat gear yang dimiliki band-band Semarang sekarang juga sudah bagus semua.

Memang seberapa penting tim produksi dalam pertunjukan musik? Bagaimana peran mereka dalam menciptakan penampilan yang optimal?
Sangat penting, sama pentingnya dengan band. Intinya, sih, peran mereka adalah mengawasi jalannya penampilan band secara teknis.

Posisinya beragam, dari yang jadi sound engineer yaitu langsung menangani output sound yang terdengar atau–kalo gak memungkinkan–bisa juga jadi perantara ke engineer bawaan rental. Apapun posisinya, intinya harus ada tim produksi yang membantu band tersebut, karena band sendirian gak bakal bisa menangani hal-hal di atas.

Saat ini kamu juga sedang menjalankan proyek solo Ranu Pani. Bisa ceritakan awal mula terciptanya proyek musik tersebut?
Sebetulnya semi-solo, sih, karena walaupun proses produksi semuanya dikerjain sendiri, tapi ketika tampil Ranu Pani jadi ‘band’ yang berisi 3 personil tetap lainnya. Awal mula bikin proyek ini, sih, agar tetap bisa berkarya di Jakarta. Tapi karena belum punya banyak kenalan, saya garap aja sendirian di kamar dengan bereksperimen ini-itu (kebetulan awal kuliah di Jakarta gak begitu padat). Sementara, corak dan konsep musik pada intinya pengen berbeda, tapi gimana caranya tetap easy listening dan kali ini menjunjung tinggi Bahasa Indonesia.

Ranu Pani membuka penampilan Jaguar Jonze di “Palm House Live” (30/9/2018). Foto dok. Haydar Narendradhipa

Mengapa memilih genre musik ini untuk Ranu Pani?
Semenjak sekitaran 2016, tanpa disengaja selera saya berbelok ke arah-arah yang seperti ini (tertawa).

Bagaimana proses kreatif Ranu Pani berjalan?
Mengurung diri di kamar, terus ngulik-ngulik deh sampe pusing sendiri (tertawa).

Bisa kamu ceritakan tentang single “Kandas Lalu Hilang Kemana”?
Itu double-single, jadi ada lagu “Kandas Lalu” dan “Hilang Kemana”. “Hilang Kemana” terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari, 1982), ceritanya tentang anak yang kehilangan sosok ibunya sedari kecil, gak tahu dimana dan bagaimana. Kalo yang “Kandas Lalu” menceritakan tentang kerinduan saya akan pertemanan semasa kuliah di Semarang.

Lalu dengan Ranu Pani, apa yang akan kamu lakukan setelah ini dan bagaimana kelanjutan Sugar Bitter?
Ranu Pani bakal jadi wadah saya buat mengeksplorasi musik pastinya, berhubung di sini saya bisa ngubek-ngubek sendiri (tertawa). Selanjutnya tinggal pelan-pelan cari wadah buat nunjukin karyanya, bisa dengan tampil atau cara-cara lain. Sugar Bitter sejauh ini masih vakum statusnya, tapi nantikan aja, kayaknya bakal ada proyek antar personil.

Agar band bisa menghasilkan output yang optimal, baik selama rekaman maupun live, apa yang seharusnya diperhatikan?
Source (sumber), sih, intinya. Ini juga udah diakui sama semua engineer yang pernah ngobrol bareng. Baik live maupun rekaman, sebisa mungkin sumber suaranya (misal: drum, kombinasi gitar ampli dan efek, preamp bass) memang sudah bagus. Proses mixing live atau rekaman itu hanya mengatasi sekitar 30% dalam membentuk output. Kerapihan dari band yang main juga sumber paling penting.

Kalo di dapur rekaman, sumber itu, ya, mikrofon apa yang dipakai, bagaimana teknik/posisi mikrofonnya, perangkat, karakter ruangan dan sebagainya. Jauh sebelum mixing.

Dalam kasus band ingin menentukan oleh siapa karyanya akan dipoles. Lebih baik memilih audio engineer kawakan tapi output-nya standar, atau audio engineer amatir tapi paham keinginan band?
Hmm, intinya pilih yang bisa menjadi translator keinginan band (dan paham eksekusi teknis pastinya). Seharusnya, yang kawakan lebih bisa. Tapi kalo ada yang amatir dan bisa, ya, gak masalah. Pokoknya jangan sampe proses kreatif berhenti karena sekadar mengikuti patron yang sudah ada.

Sebagai orang yang memiliki antusias dalam audio engineering, apa yang kamu inginkan setelah berada di SAE dan tentunya setelah pengalamanmu menangani sound berbagai band di sana?
Garis besarnya, sih, saya ingin bisa makan dari industri kreatif dan ‘memberi makan’ industri kreatif itu sendiri. Artinya saya juga ingin bisa berkontribusi dalam perkembangan industri ini, walau dalam langkah yang paling kecil sekalipun.

Uphi (paling kanan) bersama tim produksi “Musikal Petualangan Sherina” (18/2/2018). Foto dok. Amrita Saraswati S.

Lalu apa yang sudah kamu dapat dalam industri kreatif terutama audio engineer yang kamu tekuni sekarang?
Pengalaman dan pemikiran-pemikiran baru. Ternyata banyak banget aspek audio engineering atau musik yang saya baru tahu dan itu semua jadi vitamin otak yang membentuk pemikiran saya. Contoh kecilnya, setelah belajar electronic music production saya pelan-pelan mengaplikasikannya di dunia band.

Bagaimana prospek menjadi audio engineer ke depan? Apakah bisa menghasilkan?
Prospeknya bagus dan bisa banget menghasilkan! Karena industri kreatif gak akan pernah mati dan banyak banget bagian-bagian yang berkaitan sama audio engineering di dalamnya. Bukan cuma musik, tapi dalam dunia film, pertelevisian dan iklan. Banyak banget bagian yang bisa ditekuni.

Kalau disuruh memilih, lebih baik melakukan mixing/mastering di studio atau menangani pertunjukan langsung?
Saya gak bisa milih, ingin dua-duanya (tertawa). Studio dan live benar-benar dua hal yang berbeda, tetapi masing-masing sangat penting untuk pembelajaran saya pribadi. Di saat pertunjukan langsung, kita berkutat membenahi teknis. Sementara di studio, kita nyeni banget, kadang bisa melanggar teori untuk mendapat karakter yang berbeda.*

Oleh Afriyandi Wibisono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here