Distorsi Akustik – Peringatkan Arina

0
44

Kasus kekerasan serta pelecehan terhadap perempuan di Indonesia menjadi ancaman yang serius. Belum lama ini, kasus pemerkosaan di dalam institusi pendidikan yang menimpa Agni (bukan nama sebenarnya), mahasiswi Universitas Gajah Mada ini, mencuat ke publik meski berujung ‘damai’. Di luar itu, masih banyak kasus lain yang kurang mendapat perhatian bahkan agar bisa sampai ke ranah hukum.

Komnas Perempuan mencatat pada 2014 terdapat 4.475 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan, 2015 sebanyak 6.499 kasus, 2016 sebanyak 5.785 kasus dan pada 2017 tercatat ada 2.979 kasus kekerasan seksual di ranah KDRT atau relasi personal serta sebanyak 2.670 kasus di ranah publik atau komunitas (CNN Indonesia, “Menguak Data Jumlah Kekerasan Perempuan Tahun ke Tahun“). Hingga di tahun 2018, pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat 14 persen dari tahun sebelumnya. (Tempo, “Pengaduan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan Naik 14 Persen“).

Di dalam skena musik, masalah-masalah ini pun kerap terjadi seolah tradisi yang dilanggengkan. Kita tentu masih ingat dengan apa yang dialami Debby Selviana (Slost) saat mendapati perlakuan yang tidak menyenangkan saat manggung di sebuah acara musik beberapa tahun silam. Atau mungkin kasus-kasus seksisme lain di dalam ranah musik?

baca juga: Perlawanan Terhadap Seksisme: Catatan Perempuan Di Dalam Skena Punk

Foto dok. Distorsi Akustik

Menanggapi isu-isu tersebut, band alternatif, Distorsi Akustik, merilis single baru berjudul “Peringatkan Arina” yang jatuh pada Hari Perempuan Sedunia, Jumat (8/3). Single ini diambil dari album terbaru Distorsi Akustik yang akan datang, Puan, sebuah album yang didedikasikan kepada perempuan-perempuan tangguh dan segala perlawanannya.

Dilepas dalam bentuk video musik, “Peringatkan Arina” melibatkan banyak pihak dalam penggarapannya seperti Fajar Kajabu (Nonadeca Film) selaku videografer, Akhmad Ikhsan (Sangaga Photography), Elisa Handayani (Medusart), kolektif Semarang Look At Me hingga grup musik Lilin Semasa Hujan. Proses penggarapan video musik ini memakan waktu 2 hari, bertempat di Hutan Wisata Penggaron Ungaran dan TPS Jatibarang Semarang.

“Banyak kasus tentang kekerasan pada perempuan entah itu fisik maupun verbal, saat mereka (Distorsi Akustik) merespon dengan karyanya, kami pun sepakat untuk bekerja sama, satu suara dalam menyebar gagasan dan karya,” ujar tim kreatif Semarang Look At Me, Alit Yuga Ferdian.

Agar lebih semarak, Distorsi Akustik menggaet biduan asal Semarang, Ressa Lawang Sewu, seorang solois asal Pekalongan, Ameilisa Sidca Devi, serta grup electro asal Jakarta, The Goblox. Proses rekam instrumen dan vokal dikerjakan di Nada Studio, diramu oleh Bang Imz.

Ressa menyatakan, tindak kekerasan fisik maupun verbal yang menimpa perempuan terjadi bukan karena cara berpakaian, usia, maupun kepercayaan yang dianut korban. Namun masih banyak masyarakat yang menyalahkan korban.

“Ini terjadi karena degradasi moral dan nurani, tidak terpapar edukasi dan manusia yang tidak memanusiakan manusia, bagi kalian perempuan sama seperti saya, hanya ada satu kata. Lawan!,” tegasnya.

Vokalis Distorsi Akustik, Viko Prasetya, juga menanggapi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang diusulkan Komisi VIII DPR RI belum lama ini. “Saya¬†dukung penuh untuk segera disahkan. Ini kan UU untuk melindungi korban yang lemah hukum. Segera disahkan!”. (Af)

Dukung petisi¬†“Sahkan UU Penghapusan Kekerasan Seksual

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here