Dulu semasa SMP, hampir setiap pekan di kota Semarang penuh dengan gig yang cukup ramai didatangi bahkan oleh anak-anak belasan tahun seperti saya. Selain sebagai sarana melepas adrenalin, gig menghadirkan banyak informasi yang jarang saya dapat dari media arus utama, salah satunya berkenalan dengan musik-musik lokal. Ini yang membuat saya makin terjerumus dan jatuh cinta dengan kota ini.

Selama masa-masa tersebut, saya banyak mengenal musik-musik lokal dengan karya yang cukup populer di lingkup kota Semarang bahkan nasional. Tren musik saat itu juga sangat berpengaruh bagi pergerakan lokal. Dari berbagai musisi Semarang yang gandrung pada waktu itu, OK Karaoke dan Lipstik Lipsing adalah nama yang cukup santer bahkan dikenal hingga di luar Semarang.

Kebetulan keduanya bermain dalam koridor musik yang sama, indie. Masing-masing memiliki album yang cukup berpengaruh yakni Sail Off the Storm (Reservoir Records, 2008) dan Sinusoid (Vitus Records, 2014) milik OK Karaoke, juga Room for Outside (Balaw Records, 2009) milik Lipstik Lipsing. Karya-karya di album tersebut membangkitkan gelombang musik indie pop/rock di Semarang.

Belum lama ini, kedua album OK Karaoke, Sinusoid dan Sail Off the Storm, bertengger di berbagai layanan musik digital seperti Spotify, Deezer, Apple Music dsb (27/2). Menyusul kemudian album Room for Outside milik Lipstik Lipsing. Ini jadi hal paling menggembirakan setelah sekian lama karya-karya di album tersebut terbengkalai dan sulit diakses (terlebih karena rilisan fisik yang sudah habis terjual), terkecuali OK Karaoke. Kedua album OK Karaoke dicetak ulang dalam bentuk jewel case dan masih tersedia di toko musik lokal.

Album-album ini bisa dibilang cukup berpengaruh dalam kancah musik independen di Semarang. Selain karena musik, apa yang terjadi di belakangnya memantik pergerakan dari berbagai lini dan komunitas yang saling berkelindan.

Foto dok. OK Karaoke

OK Karaoke sendiri disebut-sebut sebagai garda musik brit pop/rock di Semarang. Dibentuk sejak tahun 2005 dengan formasi awal Galih (Bass/Vokal), Garna (Gitar), Baskoro (Gitar), Aga (Drum), dan Bemby (Keyboard). Tak lama, OK Karaoke merombak formasi, merekrut Adiyat sebagai pemain bass dan melahirkan demo berisi dua lagu yakni “Royal Ambassador Mistress” dan “Milky Way”. Band ini kemudian nekat menggelar tur bersama Wiwiek N Friends dan Something About Lola ke Bandung, Bogor dan Jakarta pada tahun 2007 bertajuk “Yestourday”.

baca juga: Something About Lola – Blackbolt

“Kebetulan tiga band itu sama-sama keluarin album, lalu muncul ide untuk promo bareng. Nah, kami pikir promo di dalam kota saat itu tak menarik, kami butuh impact yang lebih dahsyat. Maklum, cita-cita kami saat itu ingin jadi rockstar (tertawa),” kenang Adiyat.

Poster tur “Yestourday” (2007) dok. Feby Andryanto
Foto dok. Feby Andryanto

Proses tur ini terbilang lama, mulai dari menentukan kota yang akan dituju, memetakan kunjungan media, hingga kesepakatan untuk memilih moda transportasi. “Waktu itu, ya, emang gak ada yang seniat itu di skena. Kebanyakan rekaman aja udah, gak pake promosi serius. Dengan kondisi saat itu, ya, menurutku gila aja. Aku sama Koko (Wiwiek N Friends) sampai ngamen di sebuah cafe, cari duit buat tur. Termasuk yang ikut selain band, kru yang mana temen-temen sendiri ikut patungan. Bisa dibilang itu tur band yang dibiayai oleh skena,” lanjutnya.

Tur tersebut membuahkan hasil. Selain mempertemukan band yang satu visi (untuk tidak stuck di Semarang), dari tur ini mereka berhasil melakukan komunikasi serta membangun jaringan pertemanan lintas skena musik independen di berbagai kota yang bertahan sampai hari ini.

OK Karaoke – Sail Off the Storm (2008)

Sail Off the Storm (Reservoir Records, 2008) yang memuat 6 buah lagu bernuansa indie rock juga melahirkan nomor-nomor hit diantaranya “Milky Way”, “Bermuda”, dan “Royal Ambassador Mistress” yang digandrungi remaja-remaja SMA maupun perkuliahan pada masanya.

Setelahnya, beberapa hal terjadi dan perombakan personil pun tak terelak. Bayu yang terlebih dahulu menggantikan Bemby memutuskan keluar, menyusul Aga dan Galih yang meninggalkan band untuk melanjutkan karir.

OK Karaoke – Sinusoid (2014)

Dalam perilisan album Sinusoid (Vitus Records, 2014), OK Karaoke memperkenalkan formasi baru yakni Ditto (Vokal), Garna (Gitar), Baskoro (Gitar), Adiyat (Bass) dan Dhimi (Drum). Lewat formasi barunya, OK Karaoke membawa misi menciptakan musik yang lebih progresif dibanding karya-karya sebelumnya. Nomor-nomor seperti “Late Comer Boy”, “Sinusoid”, “Departed”, dan “Casteless Man” cukup meredefinisi musik indie rock di Semarang kala itu.

Pasca Sinusoid (Vitus Records, 2014) kehidupan band semakin tak menentu. Pergerakan komunitas serta pertunjukan musik di Semarang makin redup, geliat musik independen lambat laun mulai terasa hilang. Beberapa personil kemudian memilih meinggalkan band, salah satunya Garna yang hijrah ke Amerika Serikat. OK Karaoke memutuskan hiatus pada tahun 2015 dan kembali tampil awal 2018 di acara ulang tahun Hysteria, “Stonen Mini Fest 2” dengan formasi baru.

Foto dok. Lipstik Lipsing

Lain halnya dengan Lipstik Lipsing. Grup yang dibentuk dengan formasi awal Fauzan (Gitar/Vokal), Petra (Gitar) dan Salim (Drum) pada tahun 2008 ini bermula dengan lagu-lagu yang didominasi oleh musik instrumen dari komputer. Seiring berjalannya waktu, Lipstik Lipsing kemudian merekrut Bram sebagai pemain bass dan Dian pada keyboard.

Dengan formasi tersebut, Lipstik Lipsing mengeluarkan album mini Room for Outside (Balaw Records, 2009) dengan nomor hit diantaranya “Early Express” dan “Suburban Love” yang sukses membawa band ini meraih penghargaan “Best New Comer” versi Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) tahun 2010.

Sangat disayangkan, karir Lipstik Lipsing berakhir. Usai menyabet penghargaan, grup ini memutuskan vakum sampai batas yang tidak ditentukan. Band ini sempat menggelar sebuah acara musik di pinggir sungai Tinjomoyo, Semarang, bertajuk “Intimate Showcase” tahun 2012 silam dan mungkin jadi panggung perpisahan mereka di skena musik Semarang.

Musik memang mampu membawa pendengarnya menjelajahi waktu bahkan merajut kembali cerita-cerita di dalamnya saat pertama kali mendengarkan musik tersebut. Tanpa ingin terjebak pada momen nostalgia, album-album milik kedua band ini adalah karya yang memang sepantasnya diabadikan dan didengar sepanjang zaman.

Munculnya kembali album-album musik ini di kanal musik digital setidaknya memudahkan penggemar untuk mengakses artefak-artefak lama dan mencari tahu bagaimana perjalanan skena musiknya di kemudian hari. Tidak berlebihan rasanya jika mengatakan album-album diatas sebagai album penting dalam jajaran album-album monumental yang pernah dirilis musisi Semarang. (Af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here