Timbul Cahyono sedang melukis di studionya. Foto: dok

Saat remaja, Timbul Cahyono kerap menggambar ulang cover art dari kaset-kaset metal di kaus. Dengan peralatan seadanya, ia melukis Entombed album Clandestine. Kemudian ia pakai sendiri hingga keasyikan melukis ulang album-album kesukaannya yang lain. Sebut saja Pieces (Dismember), The Ten Commandments (Malevolent Creation) dan The Key (Nocturnus) yang dikerjakan oleh Dan Seagrave, salah satu tokoh yang mempengaruhinya. Kawan-kawannya ikut tertarik untuk dilukiskan di kaus dengan ditukar kaset metal atau ongkos harga satu kaset, pada saat itu dibandrol kisaran Rp5000.

“Dulu kalau mendengarkan band dari Amerika Serikat (AS), rasanya itu jaraknya jauh sekali. Tak terpikir bisa mengontak langsung. Rasanya hanyalah cita-cita belaka bisa mengerjakan artwork album mereka,” kenang Timbul.

Siapa sangka belasan tahun kemudian, ia didapuk untuk mengerjakan karya seni album baru Nocturnus AD yang akan dirilis tahun ini. Rak rilisan-rilisan metal dan grindcore lokal maupun mancanegara setidaknya ada nama pria asal Balikpapan ini. Sebut saja Rebirth of Jatisunda (Jasad), From Mindless Syndrome to the Eternal Decay (Proletar), Aku Akan Bunuh Kamu (Disinfected), Caustic Attack (Terrorizer) dan Repulsive Echos (Monstrosity).

Album yang disebutkan terakhir, dinobatkan sebagai 100 best artwork of 2018 dalam buku Masterpieces via Heavy Music Artwork, bersanding dengan Gustavo Sazes, Travis Smith, Vladimir ‘Smerdulak’ Chebakov, dan seniman metal lainnya.

Ilustrasi untuk band death metal asal Polandia, Vader.

Suatu hari saya bertemu dengan Timbul saat tur dengan AK//47 di Seattle, Washington (WA) AS, tahun lalu. Itu setelah kerabat sekampung, Ebby (Kontrasosial) memperkenalkan kami melalui media sosial dan bertukar kontak.

Malam itu merupakan panggung terakhir band grindcore legendaris, Enemy Soil yang berlangsung di El Corazon Bar. Saya sedang berada di lapakan merchandise mendapatkan pesan elektronik bahwa Timbul akan datang malam ini. Dalam kerumunan, kami langsung bisa mengenali dan akhirnya bisa mengobrol ditengah para band yang sedang menata instrumen. Sosoknya bersahaja, bercerita banyak soal kehidupannya sebagai seniman penuh waktu.

Di saat bersamaan, Haroldo Mardones (Capitalist Casualties/Catheter/Savage) yang datang menonton show, menghampiri Timbul yang juga menyukai karyanya. Bagi Timbul, adalah kegembiraan sendiri ketika karya seni dapat mempertemukan seseorang dan menginspirasi untuk berbuat sesuatu, seperti ia terinspirasi oleh alam raya dan berkontribusi untuk menyerukan kepedulian lingkungan.

baca juga: Catheter Siap ‘Menggerinda’ Kota Semarang

Timbul kini menetap di Port Townsend, WA, bersama anak dan istri tercintanya yang seorang warganegara AS. Pada saat menjawab wawancara ini, tepat 9 tahun ia menjadi imigran di AS. Bagaimana kiprah dan dibalik proses kreatifnya? Mari simak obrolan ini.

Ceritakan awal mula kamu mulai menekuni menggambar?
Dari kecil aku memang sudah suka menggambar. Kalau menekuni melukis dimulai kira-kira umur 13 atau 14 tahun. Ikut gabung dengan sanggar seni rupa lokal di Balikpapan, belajar dari seniman-seniman senior. Dari mulai menjual karya dan terima pesanan. Lalu lukisan souvenir, potret, kartu ucapan sampai lukisan baliho.

Kalau karya seni untuk musik? Dan siapa yang mempengaruhi kamu?
Nah, untuk ilustrasi sendiri, khususnya artwork untuk musik aku mulai dari band-band temen sendiri. Sekitar akhir 90-an waktu itu. Saat waktu remaja tersebut, aku melukis ulang sampul album kaset-kaset metal di kaus. Teman-teman ikutan tertarik untuk dilukiskan di kaus dengan ditukar kaset metal atau ongkos harga satu kaset, pada saat itu dibandrol kisaran Rp5000. Paling banyak dari cover art album tersebut adalah karya Dan Seagrave. Jadi Seagrave sedikit banyak mempengaruhi ilustrasiku. Aku juga suka HR Giger dan Ed Repka. Selain itu aku banyak terinpirasi dari alam.

Bisa ceritakan yang bermula dari fan art, kemudian kamu mengerjakan cover art band tersebut?
Salah satunya adalah Nocturnus (sebelum menjadi Nocturnus AD). Saat remaja melukis ulang di kaus di album The Key yang dikerjakan oleh Dan Seagrave. Sekitar tahun lalu label dari Bandung, Undying merilis kausnya dan mendengar kalau mereka akan merilis album baru. Lantas saya ikuti terus perkembangan di forum internet. Kemudian saya memberanikan diri untuk kontak salah satu personil Nocturnus AD, Mike Browning (ex. Morbid Angel). Saya menawarkan untuk mengerjakan cover art album barunya. Mike langsung menyetujui, sebab sebelumnya ia sudah memikirkan untuk menggunakan ilustrasi saya, hanya saja saya berinisiatif untuk mengontak duluan.

Bagaimana kamu menerjemahkan konsep yang diminta Mike?
Album baru Nocturnus AD nanti bertajuk Paradox yang konsep ceritanya sekuel dari The Key. Saya meminta untuk dikirim lirik-lirik lagunya. Kemudian saya kirim sketsa yang terkait dengan album sebelumnya yakni tema fiksi ilmiah dalam peradaban Mesir kuno dengan alien melalui sebuah portal ke masa depan. Albumnya nanti akan dirilis pada bulan Mei mendatang.

Kamu tadi menyebutkan terinspirasi dengan alam, dan pernah mengerjakan komik fabel tentang itu, bisa ceritakan?
Ya, komik tersebut namanya Bolhut (Sepak Bola Hutan) untuk menyampaikan kampanye lingkungan terhadap hutan lindung Sungai Wain di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Apa yang terjadi disana?
Hutan lindung Sungai Wain ini merupakan satu-satunya hutan primer yang dekat dengan perkotaan, sekitar 15 km dari pusat kota Balikpapan. Hal ini menjadi ancaman hingga sekarang karena disekitarnya terdapat tambang, penebangan liar, perburuan. Waktu itu tahun 2000 aku membuat proyek untuk melukis billboard untuk kampanye tersebut. Dari situ saya mulai aktif berkontribusi dalam kampanye hingga mendapatkan teman-teman baru dari banyak negara. Selain komik, juga membuat ilustrasi untuk kaus, poster untuk kampanye ini. Beberapa tahun kemudian kami dapat ide untuk membangun sebuah kawasan pendidikan lingkungan hidup. Lantas kami membuat yayasan untuk mengelola dan advokasi melalui Pronatura Foundation.

Desain untuk band brutal death metal asal Florida AS, Extremely Rotten.

Lalu bagaimana ceritanya kamu pindah ke AS dan memutuskan menjadi ilustrator profesional?
Banyak relawan dari mancanegara yang datang untuk membantu proyek tersebut. Salah satunya yang sekarang menjadi pendamping hidup (sambil tersenyum). Setelah 5 tahun kami bekerja bersama, tahun 2010 kami memutuskan untuk pindah dan menetap di AS.

Karier sebagai ilustrator sih cuma pindah tempat kerja (dulu di Indonesia, sekarang di AS). Tapi sebagai seniman pada umumnya harus mulai dari awal lagi. Kalau di Indonesia dulu kan sudah punya jaringan sesama seniman/perupa. Saling kerja sama dengan teman-teman perupa. Dari pameran bersama sampai forum diskusi seni rupa se-Indonesia. Di AS harus mulai cari kenalan baru. Ikut pajang karya di pinggir jalan, ikutan art walk, buka stan di acara-acara bazar atau festival tertentu, sampai pameran kecil-kecilan di kampus yang disponsori mahasiswa.

Foto: dok

Sebutkan band/label  yang sudah pernah kamu kerjakan?

  1. Terrorizer – Caustic Attack (The End Records, 2018)
  2. Monstrosity – The Passage of Existence (Metal Blade Records/Conquest Records/Repulsive Echo, 2018)
  3. Master/Disastrous Murmur – Total Destruction-split 7inch (Metal Bastard Enterprise, 2019)
  4. Nocturnus AD – Paradox (Profound Lore Records, 2019)
  5. Witchburner – Blasphemic Assault (Stillborn Sounds, 2015)
  6. Vehementer – Seasons of Flesh and Deparavation (Rotten Cemetery Records, 2017)
  7. Sin of God – Aenigmata (Satanath Records, 2016)
  8. Grausig – In the Name of All Who Suffered and Died EP (Grausig, 2013)
  9. Grausig – Di Belakang Garis Musuh (Majemuk Records, 2016)
  10. Proletar – From Mindless Syndrome to the Eternal Decay (Stillborn Sounds, 2013)
  11. Jasad – Rebirth of Jatisunda (Extreme Souls Production, 2013)
  12. Brutality Reign Fest II (Sevared Records, 2012)
  13. Disinfected – Aku Akan Bunuh Kamu (Rotrevore Records, 2005)
  14. Trauma – Extinction of Mankind – Reissue (Morbid Noise/Variant Music, 2004)
  15. Trauma – Paradigma: Demi Hidup Tak Perlu Harus Mati (Krossover Records, 2003)
  16. Trauma – Paradigma: Demi Hidup Tak Perlu Harus Mati – Remastered (Off The Records, 2012)
  17. Festering Grave – Portals to Hell (Festering Grave, 2017)
  18. Necrotic Chaos – Chaos Legion (Legion Records, 2018)
  19. Paroxysmal Butchering – Supreme Revulsion (Show No Mercy Records, 2012)
  20. Delirium Tremens – Psychodynamic Theory of Sadistic Perversion EP (Demented Mind Records, 2000)
  21. Delirium Tremens – Psychodynamic Theory of Sadistic Perversion EP – Reissue (ZimZum Entertainment, 2018)

dan masih akan panjang daftarnya hehe. Selain itu aku juga banyak mengerjakan merchandise, terutama T-shirt.

Ada unsur etnik nusantara yang kamu sematkan dalam karyamu?
Ada, di album Monstrosity, The Passage of Existence. Kalau dicermati ada ukiran gagang Mandau, senjata khas dari Kalimantan dan mata tombak trisula jaman Majapahit. Sebab dari konsep albumnya terdapat unsur perang dan mistisisme yang agaknya menarik kalau disematkan. Mereka malah senang-senang saja.

Monstrosity – The Passage of Existence (2018).

Gambarkan kepada kami bagaimana suasana proses kreatifnya seorang Timbul ketika memulai melukis/menggambar?
Pada umumnya sih dimulai dari corat-coret atau bikin sketsa kasar dulu. Idenya bisa dari mana aja. Buku, musik, alam, dan sebagainya. Pada umumnya aku buat sketsa di komputer, setelah aku rasa sketsanya sudah mewakili ide yang akan dituangkan dalam lukisan atau ilustrasi, lalu langkah selanjutnya dimulai. Kalau dikerjakan dengan cara digital, aku langsung warnai dari sketsa. Banyak seniman digital yang mulai dari grayscale dulu, tapi aku lebih suka langsung warna. Kalau menggunakan media tradisional, sketsa dari komputer kupindahkan ke kertas atau kanvas lalu diselesaikan dengan cat air atau akrilik.

Mengerjakan ilustrasi untuk band prosesnya sama, hanya ada tambahan sesi diskusi dengan band atau label yang bersangkutan. Untuk berbasis digital memakan waktu sekitar seminggu sedangkan kalau media tradisional bisa 2-3 minggu. Asyiknya gambar manual itu ada versi asli yang bisa dipegang. Suasana proses kreatifnya yang pasti sedikit chaos, sambil diiringi musik dan diganggu anak.

Desain t-shirt untuk Monstrosity.

Sebutkan 5 band yang kerap kamu dengarkan saat menggambar?
Nah, ini! Agak susah kalau dirampingkan jadi 5 band saja. Musik bagiku sudah seperti narkoba, terutama saat berkarya. Mulai reggae sampai brutal death metal! Oke, aku coba sebutkan lima band/artis yang banyak kudengarkan saat menggambar. Semoga bisa mewakili, yaitu Bob Marley and The Waillers, Iwan Fals, Slayer, Gorefest, Napalm Death dan saya juga banyak dengerin band-band grunge.

Berikutnya, 5 band yang kamu impikan untuk mengerjakan artwork-nya?
Tentunya band-band tua yang musiknya sudah menemani dari masa remaja dulu. Untuk 5 band yang kuimpikan untuk bisa dapat kesempatan ngerjakan covernya adalah Napalm Death, Deicide, Morbid Angel, Obituary dan Slayer (seandainya nggak jadi bubar).

Yang terakhir, tips caranya agar mendapatkan klien?
Pajang karya di sosial media. Mengontak band atau label dan menawarkan jasa juga nggak ada ruginya. Direspon oke, ditolak juga tidak masalah. Yang penting banyak latihan. Media apa saja yang kalian gunakan, tidak masalah! Tetap positif, gunakan sosial media untuk memamerkan karya dan jauhi hal-hal yang tidak berguna. Kemungkinan di luar sana ada yang menyukai karya-karyamu dan menjadi calon klienmu. Mereka ingin karya terbaikmu, bukan keluh kesahmu!

http://works.bvllart.com/
https://www.facebook.com/bvllart
https://www.instagram.com/bvllmetalart/

Oleh Garna Raditya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here