Foto dok. ROTA

Band seminal hardcore, ROTA, luncurkan rilisan keenamnya. Dibidani oleh PTK Distribution, kolektif asal Pontianak tersebut melahirkan rilisan berformat Extended Play (EP) bertajuk Rise Of The Antelope, Sabtu (2/2).

Rise Of The Antelope merupakan kepanjangan dari ROTA sendiri, yang mana rilisan ini dimaksudkan sebagai refleksi atas apa yang mereka jalani dan rasakan selama dua tahun ke belakang.

Masuknya Rio sebagai pemain bass di grup ini juga menambah ragam ide dalam aransemen lagu. Album ini banyak mengggunakan efek dan sampler untuk membawa suasana khusus dari masing-masing lagu. Selain itu, ROTA juga melakukan kolaborasi bersama MC Srampangan dengan menyelipkan unsur rap di nomor berjudul “Rise Of The Antelope 2.0”.

View this post on Instagram

Pada hari Sabtu, 2 Februari 2019 ROTA merilis album keenamnya. Album keenam ini diberi judul Rise Of The Antelope. Judul tersebut sesungguhnya adalah kepanjangan dari nama ROTA sendiri. Menurut kami memilih judul dengan nama band sendiri untuk album ini seperti berkaca pada apa yang kami jalani bersama dan apa yang terjadi dalam hidup kami masing – masing selama dua tahun kebelakang. Proses pengerjaan album ini sudah dilakukan dari pertengahan tahun 2018. Akan tetapi materi lagu sesungguhnya sudah dibuat dari 2016 dan sempat dirilis sebagai album demo. Proses rekaman dilakukan di lebih dari satu tempat. Rekaman drum dan gitar dilakukan di Seven Studio Pontianak, rekaman vokal dilakukan di Donz Studio Pontianak, dan rekaman bass dilakukan di kota yang berbeda yaitu Kayong Utara (dikarenakan bassist ROTA bekerja disana). Proses mixing, mastering, beserta penambahan efek suara dilakukan oleh Rio di Kayong Utara. CD album Rise Of The Antelope ini bisa didapatkan dengan menghubungi PTK Distribution melalui instagram @ptkdistribution ataupun berkomunikasi dengan ROTA langsung.

A post shared by ROTA ((Rise Of The Antelope)) (@rota_kolektif) on

Rise Of The Antelope punya banyak cerita yang ingin dibagi mulai dari pengalaman pahit direndahkan, sikap dan semangat, perspektif tentang kematian, seputar selangkangan hingga kegemaran para personil yang lebih sering ngopi ketimbang bermusik. Ya, dibanding dengan rilisan sebelumnya, album ROTA kali ini nampak tidak terlalu garang. Pun didukung dengan sampul album yang sangat mencerminkan kegemaran para personil. Sedikit aneh memang.

Meski seluruh lagu dikerjakan sejak pertengahan tahun 2018, namun materi-materi di album ini sebenarnya telah rampung sejak dua tahun sebelumnya. Proses rekaman dilakukan di berbagai tempat seperti rekaman drum dan gitar yang dilakukan di Seven Studio Pontianak, rekaman vokal di Donz Studio Pontianak, dan rekaman bass yang dilakukan di Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Terbentuk sejak tahun 2013, ROTA adalah proyek lanjutan dari Korrupt yang kini digawangi Reri (Vokal), Rio (Bass), Wahyu (Gitar), dan Aldiman (Drum). ROTA telah melahirkan demo, single, EP hingga album split bersama Arritmia (Meksiko). Secara musikal ROTA memainkan musik hardcore punk dengan pendekatan D-beat, neo crust hingga nuansa ambient seperti sekarang. (Af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here