Cerita saya menuju Fogfest sebetulnya telah dimulai jauh sebelum ini. Bisa dibilang saya lebih beruntung dibanding kawan-kawan lain yang datang dari luar pulau, seperti rombongan Kazed dan Malaikat Kematian dari Pekanbaru–menghabiskan waktu selama 3 hari di bus dan kapal–atau kawan-kawan dari Bali, Lombok, hingga Manado yang rela merogoh kocek lebih dalam demi sampai ke perhelatan Fogfest. Takzim!

Empat jam dari Semarang menuju Bumi Perkemahan Sekipan menggunakan mobil. Sudah lengkap dengan alokasi waktu untuk berhenti merokok, isi bensin, dan mencicipi hidangan khas di Tawangmangu. Tiba di lokasi sesuai dengan perkiraan yakni pukul 6 sore. “Selamat Datang Peserta Kemah Religi” menyambut kedatangan kami (saya datang bersama kawan-kawan Rajasinga). Saat senja mulai pudar, kabut mulai merambat dan hawa dingin merasuk, saat itu pula kami harus segera mendirikan tenda.

Foto oleh Yulius (Makam)

Sebelum menjejakkan kaki ke Fogfest, banyak yang bertanya bagaimana mungkin menyelenggarakan acara musik di alam terbuka di tengah musim penghujan? Ini menarik, sebab saya pikir Hernandes Saranela selaku inisiator acara punya alasan kuat berkenan dengan pertanyaan-pertanyaan macam itu. Tapi yang pasti, atmosfer ekstrim sudah saya rasakan sejak berangkat, di tengah perjalanan hingga memasuki lokasi acara. Sesuai tajuknya, acara ini adalah perayaan kabut secara harfiah!

Saya bergegas mencari pengunjung atau panitia yang bertugas. Mencoba menuju warung tidak jauh dari area parkir dan benar, di sana saya bertemu beberapa partisipan yang sudah hadir serta panitia. Bertatap muka untuk pertama kalinya dengan kawan-kawan yang terlibat di Fogfest (selama ini kami hanya mengandalkan media sosial dan WhatsApp untuk berkomunikasi). Tidak lama kemudian empunya acara muncul, lalu saya dibawa menuju sebuah pendopo warung kopi–yang selama dua hari kedepan akan difungsikan sebagai sekretariat dan ruang informasi bagi pengunjung Fogfest. Kebetulan, di acara ini saya terlibat sebagai sukarelawan. Kami lantas menyusun ulang strategi dan membuat daftar yang harus dilakukan panitia setelah ini, mengingat banyak kendala yang ditemui di hari pertama.

Karena suatu hal, agenda hari pertama yang seharusnya memutar dokumenter “Oslo: Roots of Black Metal” harus ditukar di akhir acara. Sebagai gantinya, semua partisipan yang telah hadir di lokasi berkumpul di satu tenda besar di sebelah Timur panggung, tempat akan berlangsungnya pameran di Fogfest.

Di dalam tenda, semua partisipan berkumpul dalam sesi ramah tamah. Band, komunitas, seniman dan semua yang terlibat dari berbagai penjuru negeri dikumpulkan untuk menceritakan dinamika pergerakan black metal di kotanya, atau setidaknya berbagi pengalaman bagaimana mereka bisa sampai ke Fogfest. Yang mengagumkan, beberapa partisipan dari luar negeri seperti Amerika, Australia dan Kanada bahkan menyempatkan hadir di acara ini!

Udara dingin kian merasuk dan tidak terasa jarum jam menunjukan pukul 12 malam. Acara hari pertama selesai, semua partisipan kembali ke tenda masing-masing. Satu yang masih jadi tanggungan panitia, alat dan panggung yang belum rampung! Hujan deras yang mengguyur kawasan Tawangmangu dari siang hingga sore cukup menghambat proses loading dan pendirian panggung.

Sementara sound system masih ditata, kawan-kawan Sasenitala–UKM di bidang pecinta alam dan kebudayaan–Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tengah sibuk menyiapkan dekorasi panggung. Mereka turut menyumbang tenaga dan kreativitas di perhelatan Fogfest. Entah apa yang sedang mereka buat, saya tidak menyimak betul. Hanya ada tumpukan sampah plastik yang dipasang sedemikian rupa secara aestetis. Sangat aneh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here