Nampaknya kita semua sepakat bahwa tahun 2018 adalah tahun dimana banyak musisi baik dalam cakupan lokal hingga nasional, cukup progresif dalam melahirkan karya-karya yang luar biasa. Salah satu yang menarik untuk menjadi sorotan adalah kualitas serta dampak dari karya-karya musisi tersebut untuk sekitar.

Tahun ini kami ingin menyajikan sesuatu yang berbeda. Kami menunjuk para pelaku kreatif di Semarang mulai dari musisi, label rekaman, seniman lintas disiplin hingga praktisi pendidikan, untuk memilih satu album musisi Tanah Air terbaik yang rilis selama tahun 2018.

Hasilnya sangat menarik! Berbagai macam album dengan latar belakang musik yang berbeda, dari arus pinggir hingga utama, lokal maupun nasional, memenuhi daftar Album Terbaik Musisi Indonesia 2018 yang kami buat. (Disusun berdasarkan abjad)

1984 – Dystopia
Tarung Records

1984 – Dystopia (2018)

Sangkakala penghitam langit ditiupkan bergemuruh di cakrawala awal tahun 2018. Neraka memperlebar jaringan kejahatan dengan membangun korporasi. Diberi nama Dystopia, dibidani oleh Tarung Records, mereka mengusung 5 track crusty-anarchaic-black metal-hymns, termasuk 1 cover song dari The Ugly. 1984 merekonstruksi naskah science fiction oleh George Orwell dan “1984” mengambil peran disini, Panoptikon dilahirkan dan black metal dinyanyikan seperti iblis yang turun ke jalan untuk melakukan unjuk rasa. – Gagas Agung Sedayu (Provokata/StonedZombies)

Airportradio – Selepas Pendar Nyalang Berbayang
Demajors Independent Music Industry

Airportradio – Selepas Pendar Nyalang Berbayang (2018)

Album kedua Airportradio, Selepas Pendar Nyalang Berbayang berhasil membawa saya tenggelam dalam lautan ingatan, sekaligus membawa saya jauh menyusuri ruang-ruang sepi yang menenangkan, meneduhkan, dan menggairahkan. Seperti air, setiap instrumen hadir menghujani kepala dan seisi angkasanya, lalu mengalir perlahan terbawa ambient dan low tempo yang tak berkesudahan.

Hingga pada ujung pemaknaan saya, 8 track berisi “Alpha Omega”, “Green Sparkle”, “Black Pepper”, “The Episodes”, “Nirmana Warna”, “Letterlijk”, “Jagal”, dan “Of the Street” adalah karya yang menawarkan hal lain dari kegaduhan orang-orang hari ini. – Tries Supardi (Segi Film)

AK//47 – Loncati Pagar Berduri
Lawless Jakarta/Disaster Records

AK//47 – Loncati Pagar Berduri (2018)

Dipenghunjung tahun 2018, salah satu pionir grindcore Semarang, AK//47, membidik tepat sasaran dengan merilis album penuh Loncati Pagar Berduri dibawah naungan label Lawless Jakarta (CD) dan Disaster Records (Kaset). Tidak menunggu waktu lama sejak album sebelumnya Verba Volant Scripta Manent, 13 track yang benar-benar ‘gembradhak’ penuh emosi. Banyak hal-hal segar terutama pemilihan komposisi riff yang groovy, math, stoner, tanpa meninggalkan landasan 3 chord mayhem (pastinya sangat berbeda dari album-album sebelumnya). Mungkin akan lebih liar apabila muntahan sound rekaman dibikin sedikit kotor lagi.

Dari segi penjualan, album dan merchandise band ini sangat dicari. Usai menyimak rilisan terbaru mereka, tentu sangat ingin melihat penampilan AK//47 secara langsung. – Brury Prasetyo (Octopuz/Comestore/Demajors Semarang)

BAP. – Monkshood

BAP – Monkshood (2018)

Dipenghujung tahun 2018 seakan-akan musim semi untuk pelaku dan penikmat musik. Banyak rilisan yang membuat saya menggeleng-gelengkan kepala, in a positive way. Salah satunya album dari BAP. bertajuk Monkshood ini. Mengapa menjadi salah satu rilisan top? Karena sejak awal mendengarkan album mereka berhasil memvisualisasikan kepelikan “pagi” sebagai track pembuka. “godspeed” yang sarat dengan 60s soul sampai dibuat dejavu duo rocky-tyler di “kl” featuring ShotgunDre. “come hell or high water” is still my most favorite track so far. – M. Al Ichsan (Good Morning Everyone)

Detention – Lullabies For A Broken World
Resting Hell

Detention – Lullabies for A Broken World (2018)

Daya gigit hardcore punk-nya hiperaktif. Gitar yang renyah, vokal marah, dan drum yang berani membantah. Terlebih lagi kemasan lo-fi nya memperkuat ruh di setiap lagu. Mewakili berbagai kemarahan yang terpendam terhadap dunia dengan carut-marutnya. – Garna Raditya (AK//47/Vitus Records)

 

 

.Feast – Beberapa Orang Memaafkan
Sun Eater

Feast – Beberapa Orang Memaafkan (2018)

Meramahkan kritik dengan chorus-chorus catchy. Permainan gitar yang lebih tenang, riff bluesy sesekali dimunculkan, dengan vokal yang bersih, drum yang menghentak keras dan lirik yang lebih marah. Kemasan yang cukup sangar dan cerdas untuk menjadikan album ini lebih anthemic. .Feast berhasil membangun monumen dari sebuah tragedi dalam album ini. – Rizqy Kamilla (Duduknyeni/Announcer Trax FM Semarang)

 

Foolish Commander – The Undying Recital
HILLS Collective

Foolish Commander – The Undying Recital (2018)

Pertama mendengarkan single “Paranoia”, saya kembali teringat dengan duo elektronik dari Semarang di awal tahun 2000-an, Terror Incognita. Karakter vokal yang (meski) dibalut efek, membuat telinga saya menjadi “ramah” kembali, seperti mendengar vokal band-band triphop era 90-an. Didukung dengan sampling musik yang agak “gelap” dan sedikit industrial, serta vokal rap yang tidak terlalu berlebihan. Kualitas audio cukup mantap, saya ingin melihat mereka bermain live full set dengan piranti analog meski jadi bukan band murni elektronik lagi haha.

Intinya denger lagu yang berubah-ubah meski garis merahnya rap di album mereka aku bisa merasakan bahwa mereka anak muda yang mencoba menua tapi tetaplah anak muda. – Andi Pratomo (Majelis Improvisasi)

GAC – Resonance
Demajors Independent Music Industry

GAC – Resonance (2018)

Ini salah satu album yang udah saya tungguin tahun ini setelah album sebelumnya Stronger (2015). Semua materi di sini ditulis sendiri sama GAC, mereka ga cuma ngomongin cinta, tapi juga mengangkat isu-isu sosial di dalamnya. Lagu solo dari masing-masing personil juga ada di album ini. Bisa dibilang album ini adalah album yang paling jujur yang pernah ditulis GAC.

Album Resonance sendiri bukan cuma sekadar kumpulan lagu, tapi bisa menjadi kumpulan cerita emosi-emosi yang kita rasakan dalam hidup dari kebahagiaan, kesedihan, keresahan semua bisa ditemukan di album ini. Satu track yang paling saya suka judulnya “Sailor”. – Danar Setyawan (Harvest/Music Director Trax FM Semarang)

Kunto Aji – Mantra Mantra
Juni Records

Kunto Aji – Mantra Mantra (2018)

Terlepas dari kualitas produksi album ini yang menurut saya sangat baik, yang terutama saya nikmati dari album ini adalah kebebasan. Kita sudah sampai pada era dimana major label dan segala tetek-bengek kepentingan komersialnya tidak bisa lagi mengklaim bahwa mereka “mengendalikan industri”; era dimana kebebasan berkarya dikendalikan seutuhnya oleh musisi, independen.

Saya pikir album ini tidak mungkin diproduksi oleh major label manapun jika dibuat 10 tahun lalu. Sementara para major label semakin mengais model bisnis masih dengan cara dan etika orde baru, para musisi semakin berkibar dengan independensinya, mendominasi market dengan kejujuran karya dan ekspresi. Dan Kunto Aji dengan album Mantra Mantra menjadi salah satu ikon era ini, independensi karya diatas kepentingan komersial. – Gatot Hendraputra (Aljabar/Leader Impala Space)

Laze – Waktu Bicara
Demajors Independent Music Industry

Laze – Waktu Bicara (2018)

Merangkum kota jadi sesuatu, bukan pekerjaan yang mudah. Sekalipun jadi rangkuman, belum tentu bisa membuat Addie MS, Guruh Soekarnoputra dan Rhoma Irama tersenyum bahagia. Waktu Bicara adalah kesatuan suara yang terasa keringatnya. – Mere Nauval (Legit!/Olly Oxen)

 

 

Seringai – Seperti Api
High Octane Production/Lawless Jakarta

Seringai – Seperti Api (2018)

Album Seperti Api dari band Seringai berisi dua belas lagu (termasuk satu lagu opening instrumental berjudul “Hidejokasuru”), dengan tema-tema yang sebagian melanjutkan tema tentang serunya gigs atau menjadi band rock (lagu “Selamanya” dan “Adrenalin Merusuh”) dan kemarahan terhadap kaum hipokrit dan bigot (lagu “Persetan”, lalu “Seteru Membinasa” dan “Bebas”) sedangkan sisanya merupakan kisah mitologi atau fiksi (lagu “Ishtarkult”) dan modernitas (lagu “A.I”).

Suara gitar dan bas lebih dominan di album ini dibanding misal suara drum atau vokal di album-album sebelumnya. Kesan yang lain dari unsur produksi album ini adalah kerapian dan susunan lagu yang baik. Sebagian besar ketertarikan pada album ini karena jaraknya yang lama dengan karya terakhir band ini dan kerinduan akan kemarahan dan kegusaran bathin yang diwakili lirik, suara serak dan lantang dari Arian13, frontman band ini. Album ini diproduseri oleh High Octane Production dan Lawless Jakarta. – Rizal Hari Magnadi (Dosen Universitas Diponegoro)

Sharesprings – Paraparlor
Dismantled

Sharesprings – Paraparlor (2018)

Paraparlor ini adalah album perdana Sharesprings, indie pop/shoegaze dari Jakarta yang dirilis oleh Dismantled dalam bentuk CD (coba aja ada kasetnya, pasti lebih seru hehe). Album ini berisikan 8 track yang sangat apik untuk disimak, penantian dari 2006 mereka sangatlah terbayar. Jujur saya sangat menantikan setiap rilisan track by track dari mereka. Pertama mengenal Sharesprings dengan track berjudul “I Love to See You (Daydreaming Me​)​”.

Musik mereka a la My Bloody Valentine era Sunny Sundae Smile. Dari demo mereka hingga album Paraparlor muncul, konsistensi musik mereka sangat tight! Track favorit di album Paraparlor ini berjudul “We Don’t Have To Talk But Please Hold My Hand”, sangat cocok untuk sing along di gigs-gigs setempat, soundtrack perjalanan baik dalam maupun luar kota. Mudah diingat, mudah dikulik juga. Semoga di tahun 2019, Semarang jadi bucket list mereka. Aye! – M. Rifqi (Moiss)

Sore Tenggelam – Obat Tius

Sore Tenggelam – Obat Tius (2018)

Kalian boleh bosan dengan denting gitar, lirik bertaburan senja, kopi, hujan, curahan hati dibalut frasa puitis, yang terlalu banyak dipakai secara besar-besaran oleh unit folk tanah air. Namun ada yang beda dengan rilisan Sore Tenggelam ini. Pada lagu “Koma” Sore Tenggelam membuat tanda baca koma menjadi suatu metafora bagi sebuah hubungan manusia. Sebuah usaha yang cukup berhasil bagi seorang mahasiswa Sastra Indonesia yang terancam tidak lulus kuliah. Pada lagu ketiga, “Hujan Dan Ingatan”, pengulangan tema ‘hujan’ pun tidak membosankan.

Dengan menampilkan segala frasa cuaca, mulai dari mendung, gerimis dan hujan (Alhamdulillah, untung badai, topan, dan kemarau tidak masuk, bisa-bisa lagu ini menjadi ramalan cuaca), lagu ini menjadi sebuah ramalan pada sebuah hubungan (percintaan?) untuk menuju sebuah kedewasaan. – Khotibul Umam (Wayang Tenda/Serikat Pembunuh Ayah Kandung/Dosen Universitas Diponegoro)

World Domination – Forever Slave
Necros Records

World Domination – Forever Slave (2018)

Best grindcore band of 2018. By the way ini album Mas Hamzah, lho, yang garap (Hamzah Kusbiyanto, Venom Music Studio, red). – Tommy R. Saputra (Shutbeach Records)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here