Selama satu tahun ke belakang, di Semarang banyak berseliweran musisi-musisi dengan karya album yang apik. Seiring dengan berkembangnya teknologi, hal semacam memperdebatkan kesahihan antara rilisan fisik dan digital, bukan lagi hal penting sebab yang utama saat ini adalah album musik masih dipercaya sebagai entitas dan tanggung jawab musisi terhadap karya mereka.

Sebelumnya kami telah mengulas Single Musisi Semarang Terbaik 2018. Berikutnya kami berikan daftar 10 teratas karya album terbaik yang dirilis musisi Semarang tahun ini.

Provokata – Hantu Utopia
StonedZombies

Provokata – Hantu Utopia (2018)

Rilisan ini terlalu singkat, bahkan untuk disebut album mini. Grinder sastrawan, Provokata, kembali memprovokasi kancah musik lewat rilisan terbarunya, Hantu Utopia. Berisi lima buah lagu, di album ini Provokata menggunakan formasi terbaru dengan Galang Aji Putro pada lini vokal. Galang yang juga bertanggung jawab pada penulisan lirik, lebih mengangkat hal-hal bertema filsuf hingga mistikisme. Dari segi tata suara, album mini ini belum bisa dibilang lebih rapi jika dibandingkan dengan Catatan dari Sudut Kota.

Geram – Rimba
SBS Records

Geram – Rimba (2018)

Album mini debut eksistensi grup thrash metal, Geram. Rimba, buah kontemplasi selama hampir 7 tahun lamanya, meluncur di bawah naungan Scattered Brains Society (SBS) Records dalam format cakram padat. Album ini berisi 7 buah lagu dengan banyak dipengaruhi musik-musik thrash metal era 90-an seperti Sepultura, Exodus, Pantera dan tentunya “Big Four of Thrash”. Geram turut membawa misi Nguri-uri Budaya Jawa dengan memadukan kearifan lokal seperti Geguritan dan juga representasi visual di sampul albumnya, “Gunungan Wayang”.

Daya Ledak – Reunite
SSWILA Music

Daya Ledak – Reunite (2018)

Tiga tahun sejak terbentuk, grup punk rock, Daya Ledak kini resmi melahirkan album penuh perdana bertajuk Reunite. Berisi 11 trek yang dirilis dalam format digital di bawah kanal distribusi SSWILA Music. Sesuai namanya, Daya Ledak sangat eksplosif terutama saat membawakan nomor-nomor bertempo cepat dan tegas. Reunite berisi himne kebebasan berekspresi, kecintaan kepada klub sepak bola dan kritik sosial. Dalam proses penggarapan di salah satu materi, Daya Ledak turut melibatkan pendukung sepak bola PSIS Semarang untuk mengisi vokal latar di nomor berjudul “Hooligan Semarang”.

Hearted – Unity
Here To Stay

Hearted – Unity (2018)

Debut rilisan grup hardcore muda dan berbahaya, Hearted, lewat album mini bertajuk Unity. Sejak terbentuk beberapa tahun lalu, grup ini cukup aktif melalang buana, salah satunya saat menginisiasi tur album di Pulau Jawa dan Bali. Dengan semangat kolektif, grup ini melesat berkat berbagai upaya serta jejaring yang cukup luas. Album Unity dirilis dibawah naungan Here To Stay dalam format kaset. Berisi 6 buah trek dengan nuansa hardcore/punk yang eksplosif dan beringas.

 

Syndrome – Claymante XIII
Histrionic Records

Syndrome – Claymante XIII

Grup metal veteran, Syndrome, tahun ini berkesempatan meluncurkan rilisan terbaru. Usai merilis ulang album perdananya, Syndrome memanfaatkan momen Record Store Day tahun ini untuk menunjukan kembali tajinya di kancah musik cadas. Album pendek berjudul, Claymante XIII meledakkan telinga lewat 3 buah trek baru dan satu lagu daur ulang milik grup legendaris, Led Zeppelin berjudul “Immigrant Song”. Syndrome di album ini membawa nuansa thrash yang gahar dan lebih progresif.

Sore Tenggelam – Obat Tius

Sore Tenggelam – Obat Tius (2018)

Debut musisi folk pendatang baru, Sore Tenggelam. Proyek solo yang diprakarsai Ignatius Desty Hari Adi Kristianto atau akrab disapa Tius ini resmi meluncurkan album mini bertajuk, Obat Tius. Dikemas dalam bentuk kaset yang dirilis secara mandiri, terdapat 4 buah lagu akustik dengan balutan melankolis. Salah satu lagu berjudul “Hujan di Ingatan” adalah hasil kolaborasi antara Tius dengan Deviasita Putri (Figura Renata). Album ini juga tak lepas dari campur tangan musisi, Jason Ranti, kawan sekaligus mentor Tius yang banyak memberi sumbangsih di album perdana ini.

Patagonia – Impaled Human
SBS Records

Patagonia – Impaled Human

Grup death metal, Patagonia resmi meluncurkan debut album mini bertitel Impaled Human. Rilisan ini telah lama digaungkan sejak single perdana mereka, “Under The Siege” dirilis tahun lalu. Impaled Human sukses meletakkan kembali gereget musik death metal Semarang dalam peta musik nasional.

Kelima lagu bernuansa seram dan buas ini sukses membawa kembali atmosfir musik seperti yang dibawakan grup legenda Suffocation, Malevolent Creation, Deeds of Flesh serta punggawa-punggawa old school death metal Amerika lainnya.

Vokal growl yang mencekam, pukulan drum yang brutal dibalut riff yang mencabik, tak luput hasil akhir yang maksimal, buah polesan empunya studio rekaman, Wowod (Syndrome). Ditambah, sampul album karya seniman Luthfi ‘Debronzes’ (Syndrome) sangat merepresentasikan betapa buasnya album ini.

Foolish Commander – The Undying Recital
HILLS Collective

Foolish Commander – The Undying Recital (2018)

Jelang tutup tahun, grup elektronik/pop Foolish Commander meluncurkan album debut berjudul, The Undying Recital. Album ini terdiri dari delapan trek yang berbicara tentang dinamika hidup lewat sebuah siklus yang dianalogikan kedalam 5 tahap nestapa. Lirik yang ditulis oleh Kanina dan Luthfi juga banyak menyinggung soal konflik yang kerap terjadi di masyarakat.

Tak hanya itu, mereka mencoba memperluas fragmen dengan sentuhan formula rock alternatif, hiphop, dan math rock yang memadukan komposisi vokal, rap, dengan suara synthesizer dan gitar serta pemanfaatan sampler.

Album yang proses produksinya menghabiskan waktu satu tahun ini sekaligus menutup proyek “SZN” sebagai rangkaian episode perilisan album dan EP yang disupervisori oleh HILLS Collective.

AK//47 – Loncati Pagar Berduri
Lawless Jakarta/Disaster Records

AK//47 – Loncati Pagar Berduri (2018)

Grup asal Semarang, AK//47, merilis album ketiga bertajuk Loncati Pagar Berduri. Berisi 13 komposisi grindcore dengan topik yang tak kalah kritis dari album sebelumnya, Verba Volant, Scripta Manent, dalam merespon kejadian-kejadian di Bumi Nusantara mulai dari isu LGBT, agama, komoditas hoax serta rasisme jelang tahun politik.

Tidak ada lagi syair puitis penuh harapan seperti album sebelumnya, sebab pasca hengkangnya Manusia Kera (Vokal), Garna Raditya mengambil alih mikrofon serta bertanggung jawab dalam penulisan semua materi di album ini. Di album ini AK//47 memusatkan lirik layaknya jargon. Lugas dan tegas!

Secara musikal, ketigabelas komposisi ini dikemas dalam kemarahan gerinda punk yang beringas dan progresif. Tak lepas pula pengaruh nuansa grindcore 90-an seperti Discordance Axis, 324 dan hardcore a la Disrupt dan Totalitar.

Sade Susanto – Checkpoint
HILLS Collective

Sade Susanto – Checkpoint (2018)

Sebuah album milik solois muda, Sade Susanto, bertajuk Checkpoint. Dibidani oleh HILLS Collective, album tersebut meluncur di berbagai kanal musik digital. Checkpoint milik Sade juga merupakan satu dari rangkaian karya merespon single “SZN”.

Penggarapan album Checkpoint membutuhkan waktu yang tidak singkat. Terhitung dari April 2018, penggarapan album Checkpoint memakan waktu selama enam bulan sebelum semua materi di album ini layak diluncurkan.

Perpaduan musik RnB dengan balutan elektronik yang membius di seluruh materi. Membawa pendengar menyelami makna yang akan menuntun kepada suatu titik penyadaran. Tidak berlebihan jika album Checkpoint didapuk sebagai album terbaik musisi lokal tahun ini. Dan Sade–musisi muda dengan penuh talenta ini–niscaya memiliki karir musik yang cerah di kemudian hari. Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here