Distorsi Akustik – Tak Ada Tempat untuk Warna Abu-abu di Kotak Pastel

Upaya untuk Mengenang Mereka yang Gugur Tanpa Proses Peradilan

0
86

Usai meluncurkan video musik dari single, “Mesin Pemahat Waktu” sebagai selebrasi ulang tahun mereka yang ke-11 beberapa waktu lalu. Distorsi Akustik resmi melepas single anyar berjudul “Tak Ada Tempat untuk Warna Abu-abu di Kotak Pastel”, Minggu (30/9).

Single tersebut nantinya turut mengisi deretan lagu di album terbaru mereka, Puan yang masih dalam proses pengerjaan. Sebelumnya, single “Tak Ada Tempat untuk Warna Abu-abu di Kotak Pastel” ikut meramaikan kegaduhan Kompilasi Golongan Putih (StonedZombies, 2018) yang diinisiasi oleh Kolektif Simpul Api, sebagai upaya membangun kesadaran politik tanpa menjadi politikus dalam menolak Pemilihan Umum.

baca juga: Resmi Rilis! Kompilasi Golongan Putih

Foto dok. Distorsi Akustik

Dalam lagu ini Distorsi Akustik berkolaborasi dengan solois, Adam Suraja serta Tommy Hermawan untuk memberikan nuansa pada vokal agar terdengar lebih semarak. Tetap mengusung lirik absurd berbahan dasar kritik, serta alunan musik populer untuk menuturkan pesan-pesan tersembunyi di dalamnya. “Sejarah yang kau tulis, genosida itu evidensi palsu. Dunia yang kau pilih mengubur jasadku dan membungkamku,” sepenggal lirik yang termaktub sebagai penyampaian emosi yang dibalut dengan nuansa manis serta delay yang berdenting di sepanjang nada. Tanpa sadar, jiwa kalian akan bersenandung kecil, pun ikut berdansa mengutuki pesan yang dikabarkan.

“Dunia yang kita pijak, berdiri di atas kepedihan dan ratapan manusia lain, disaat bersamaan kita hanya peduli pada hidup kita sendiri,” ucap Adam Suraja.

“Banyak kasus pelanggaran HAM yang terjadi di negara ini, sebut saja kasus Munir, Marsinah, Udin bernas, Pembunuhan Mahasiswa Trisakti, Wiji Thukul sampai Genosida 65, dan masih banyak lagi yang tidak pernah terungkap siapa pelaku dan siapa dalangnya? Dan seiring pergantian tampuk kepemimpinan tetap saja hasilnya sama, senyap. Lagu ini bercerita tentang perlakuan keji yang terima oleh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) pada waktu peristiwa Gestapu 65, sebagai upaya rezim yang berkuasa untuk membelokan sejarah. Karena kami percaya sejarah ditulis oleh para pemenang,” ungkap drummer, Ragil Pamungkas.

Single ini juga dirilis dalam bentuk video musik yang berdurasi lebih kurang 3 menit. Dikerjakan oleh Bang Ims yang mengambil lokasi syuting di Nada Studio. Disela-sela proses rekaman album Puan, grup ini turut merekam beberapa nomor secara langsung di studio yang sama. “Berbeda itu biasa, namun yang keliru adalah memaksakan pembenaran tanpa didukung literasi yang valid, karena kami percaya ilmu pengetahuan adalah senjata, dan lagu ini juga adalah sebuah upaya untuk mengenang mereka yang gugur tanpa proses peradilan,” ungkap pemain bas, Taufik Adi. (Af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here