Dhong Gedhe. Foto dok. Kolektif Hysteria

Selama bertahun-tahun, ritual sedekah bumi berlangsung sebagai peninggalan para leluhur. Tidak ada yang ingat lagi ini perayaan yang ke berapa. Ritual merti desa, meruwat sukerta, sengkala, dan kesialan ini berlalu tanpa melalui banyak refleksi, pun ketika jaman berubah dan tanah tak lagi satu-satunya sumber makan dan pengikat. Udan salah mongso (hujan di musim yang tidak selazimnya) sebagai penanda perubahan musim, ekses pemanasan global, karakter sampah yang tidak terurai, kerusakan ekosistem, dan hal-hal negatif lain dengan perubahan lanskap alam tidak pernah masuk dalam kesadaran: “Mengapa harus ada sedekah sumi?”. Satu yang pasti, tidak melaksanakannya dianggap melanggar adat.

Di masa dulu, orang percaya desa akan terkena pagebluk, bencana, dan kematian tidak terduga. Apakah anak muda sebagai penerus dan penjaga kampung memercayai klenik yang sama? Entahlah. “Wis adate, nek ditinggal mengko akeh sing ngamuk,” (sudah menjadi kebiasaan, kalau ditinggalkan nanti banyak yang marah). Terlepas dari pamornya yang kalah dengan pedangdut pantura, adat ini tak pernah mati, tak terkecuali desa-desa di wilayah Rembang, Pati.

Kolektif Hysteria bersama penggiat dusun Sekararum, SKRM Squad, mulai membaca dan memaknai ulang keberadaan mereka di kampung. Sekararum sendiri merupakan salah satu dusun di desa Sekarsari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, Pati yang luasnya sekitar 51 hektar dihuni sekitar 225 kepala keluarga dengan sebagian besar warganya berprofesi petani. Meskipun data dari kelurahan menyebut mayoritas profesi warga adalah petani, namun faktanya banyak warga yang memilih merantau. Hasil dari pertanian dianggap tidak lagi mencukupi kebutuhan. Tren merantau nyaris pernah dirasakan oleh pemuda kampung. Tanah gersang, sawah tadah hujan, dan iklim yang panas membuat desa kehilangan daya tariknya. Belum lagi mobilitas sosial yang jauh dijanjikan di tempat lain membuat pelan-pelan kampung mayoritas dihuni orang tua maupun remaja yang masih sekolah. Pemuda cukup umur memilih merantau, ikatan pada tanah kendor, dan sedekah bumi? Pelan-pelan kehilangan maknanya.

Poster “Nginguk Githok”

Lewat “Nginguk Githok”, Kolektif Hysteria bersama remaja kampung berinisiatif mengajak warga untuk merefleksi salah satunya melalui fenomena sedekah bumi. Nginguk Githok atau melihat tengkuk sendiri dimaknai sebagai upaya refleksi atau napak tilas dalam kegiatan sedekah bumi di dusun Sekararum baru-baru ini. Githok atau tengkuk, adalah bagian tubuh yang berdekatan dengan kepala. Tengkuk adalah leher bagian belakang penyambung kepala dengan tubuh. Jika kepala, tempat keberadaan otak yang dipercaya sebagai pusat kesadaran dan rasionalitas, bagian penting ini tak akan berjalan maksimal tanpa ditunjang leher termasuk di dalamnya tengkuk. Menariknya meski letaknya berdekatan, kita tidak bisa secara langsung mengamati tengkuk kita sendiri kecuali menggunakan cermin, atau melalui laporan orang lain.

Tengkuk adalah representasi hubungan sehari-hari, tanpa jarak, biasa saja, karenanya melihat tengkuk atau melakukan refleksi membutuhkan waktu tersendiri. Butuh kesadaran untuk melihat ulang fenomena keseharian yang kehilangan vitalitas. Melihat tengkuk, bercermin, refleksi dengan demikian merupakan ajakan untuk membaca kembali dalam hal ini tidak hanya keberadaan kampung tetapi juga fenomena sedekah bumi.

Lokakarya bersama Denta Risman di Rumah Jogoboyo (24/7). Foto oleh Adin

Dalam “Nginguk Githok”, banyak kegiatan mulai dari lokakarya, pemutaran film, forum diskusi hingga pementasan yang melibatkan warga. Kegiatan ini berlangsung sejak hari Sabtu, 21 Juli 2018 kemarin hingga Kamis, 26 Juli 2018 yang ditutup dengan arak-arakan warga dusun, ritual tayuban pundhen, dan pertunjukan. Kolektif Hysteria dan SKRM Squad juga melibatkan banyak pihak secara individual maupun komunal diantaranya Dina Prasetyawan, Purna Cipta, Oktav Bagus, Riska Farasonalia, Andy Sueb, Wayang Gaga hingga Wukir Suryadi. Kegiatan-kegiatan tersebur dilakukan di berbagai tempat mulai dari kediaman warga hingga situs dusun. (Af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here