Memupuk Inisiatif dan Kemandirian bersama Penahitam

Berkarya, Berbagi, Berteman dan Bersenang-senang

0
192
Foto dok. Painsugar

Beberapa waktu lalu, datang seorang kawan yang cukup spesial dari jauh. Datang berboncengan menggunakan sepeda motor dari Malang ke Semarang. Adalah Didi (Painsugar), salah seorang pendiri kolektif seni visual bergenre dark art terbesar–apabila tidak mau dibilang tersohor–di Indonesia saat ini, Penahitam.

Kedatangannya di Jawa Tengah, tak lain juga dalam misi merampungkan Penahitam Fanzine edisi ketujuh yang mana saat itu tengah dicetak di Yogyakarta. Sekalian bersilaturahmi dengan teman-teman di Semarang, saya berinisiatif untuk melakukan tanya jawab dengan salah seorang–yang kalau boleh jujur–banyak menginspirasi saya dalam berkarya.

Namun, tidak adil rasanya jika saya hanya melakukan sesi tanya jawab secara personal. Bukankah lebih baik jika teman-teman yang lain juga ikut? Maka tercetus lah forum “Buah Tangan” seri ketigabelas dengan tema “Lebih Dekat Dengan Penahitam”, yang mana menghadirkan halal bihalal sekaligus sesi bincang-bincang bersama Didi, Rabu (20/6). Dalam suasana lebaran, “Buah Tangan 13” didukung oleh Kolektif Hysteria yang bertempat di Grobak Art Kos (Jl. Stonen No. 29, Semarang) dan dihadiri oleh teman-teman yang begitu hangat, sehangat opor pada momen lebaran.

Barangkali apa yang saya tulis disini tidak tepat disebut notulensi, pun juga wawancara yang saya lakukan tidak terlalu menarik. Namun bukan berarti apa yang saya sampaikan disini tidak memiliki pesan. Banyak pelajaran yang saya ambil khususnya untuk saya pribadi, lewat sesi talkshow saat itu. Untuk teman-teman yang kemarin belum berkesempatan hadir, berikut coba saya rangkum percakapan saya dan teman-teman bersama Didi ‘Painsugar’. Tentunya hasil percakapan tersebut telah saya sunting dan susun agar lebih mudah disimak.

Foto dok. Painsugar

Bisa ceritakan awal berdirinya Penahitam?
Awalnya saya dan kawan saya berempat di Malang, sama-sama suka gambar, juga sering ngopi bareng. Kemudian berinisiatif buat bikin pameran, kebetulan di cafe punya temen waktu itu, sekalian ngeramein. Setelah itu kami bikin grup Facebook tahun 2012, awalnya cuma berempat terus lama kelamaan banyak yang respon. Dari situlah awal Penahitam terbentuk.

Setelah bikin grup Facebook, kegiatan apa yang kalian lakukan setelahnya?
Setelah itu kami sepakat untuk membuat pameran. Karena kebanyakan anggota berasal dari lintas kota, maka pameran yang kami buat menggunakan medium fanzine. Setahu saya saat itu, zine sebagai media independen memiliki segmen khusus yang tidak dimiliki media mainstream manapun.

Konten apa saja yang dimuat dalam Penahitam Fanzine saat itu?
Waktu itu kami saling wawancara teman-teman kami yang sekiranya menarik dan cocok untuk dimasukan kedalam kolom fitur. Waktu itu ada Prisa Rianzi, Morrgth sama ada beberapa teman lagi.

Apakah Penahitam hanya fokus pada ranah dark art?
Awalnya memang karena empat orang yang membentuk Penahitam ini suka sama Slayer. Di saat seniman-seniman lain membahas hal-hal indah, justru kami sebaliknya. Menurut kami bahwa sesuatu yang gelap–dipandang buruk, menjijikan dan kerap dianggap mengganggu–juga ada dalam kehidupan kita.

Nah, misi kami adalah bagaimana caranya agar hal-hal ini bisa membaur, sebab orang yang menghargai kehidupan belum tentu menghargai kematian. Namun, orang-orang yang menghargai kematian tentu juga menghargai kehidupan. Tidak harus berwarna hitam putih, sebab kami lebih mementingkan prosesnya.

Selain mengangkat hal-hal yang berseberangan dengan keindahan, kemarin pada edisi terakhir Penahitam Fanzine, kami mengangkat tema erotisme. Ternyata banyak seniman-seniman di luar sana yang diam-diam suka menggambar obyek contohnya berupa alat kelamin, namun tidak memiliki ruang–takut dianggap tabu dan sebagainya. Padahal kami yakin bahwa hal itu juga bagian dari proses.

Edisi tersebut sempat dibuatkan acara peluncuran di Melbourne. Profit dari penjualan fanzine di acara tersebut kami donasikan guna mendukung pergerakan LGBTQ di Indonesia, sebab isu kesetaraan gender dan orientasi seksual di sini masih belum mendapat perhatian.

Artwork oleh Delirious Ink

Apakah Penahitam Fanzine terbatas hanya untuk karya berbasis manual drawing?
Pada akhirnya kami mengikuti perkembangan zaman. Ada yang tidak menggunakan kertas namun tetap menggunakan pikiran dan gerakan tangan–bukan fotokopian (tertawa). Jadi memang tetap ada karya berbasis digital, seperti di edisi ketujuh yang akan datang, kami juga menampilkan karya digital milik Alit Ambara (Nobodycorp).

Tema apa yang diangkat dalam fanzine Penahitam edisi tujuh kali ini?
Jadi, untuk edisi ketujuh kami ingin merespon sebuah film berjudul On Modern Servitude (Jean-François Brient, 2009) tentang kehidupan modern yang terinspirasi dari buku milik Guy Debord, The Society of the Spectacle. Jadi secara langsung ataupun tidak, kita sebenarnya adalah bagian dari perputaran mesin modern ini. Merespon keadaan ini, ternyata ada seniman yang memfokuskan karyanya sebagai bentuk propaganda (artivisme).

Di edisi ini ada beberapa nama seperti Rangga Lawe, dia aktif dalam gerakan “Tolak Pabrik Semen” di Kendeng dan “Tolak NYIA” di Temon. Lalu ada Gilang ‘Propagila’, ia beserta karyanya turut berkontribusi dalam skena hardcore/punk, Denpasar Kolektif, dia juga aktif dalam gerakan “Bali Tolak Reklamasi”. Kemudian ada Billy Agustan yang membuat karya kolase. Meski secara pribadi dirinya sudah tidak aktif dalam berbagai gerakan seperti yang tadi saya sebutkan, tapi saya melihat bahwa masih ada konteks politis dalam karya-karyanya.

Bisa sedikit cerita tentang film ini?
Film ini menceritakan tentang perbudakan modern. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, kita adalah bagian dari mesin. Hanya spesies manusia yang membayar di rumahnya sendiri. Kita disuruh bekerja untuk membeli sesuatu, membayar penjara yang kita sebut sebagai rumah kita sendiri. Budak zaman dahulu saja gak harus bayar untuk ‘penjaranya’ sendiri.

Dalam konteks modernitas, hal tersebut membuat kita menjadi individual dan terasing. Silakan teman-teman tonton sendiri, ada di platform YouTube. Menurutku, film itu sangat gamblang meski berasal dari potongan-potongan film box office yang diberi narasi sendiri. Kami ingin merespon film tersebut lewat sudut pandang yang beragam–sebab menurut kami–seni dan aktivisme adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Mereka saling melengkapi dengan berbagai fungsinya baik sebagai propaganda ataupun untuk menegaskan suatu hal.

Konten apa saja yang akan dihadirkan dalam Penahitam Fanzine edisi ini?
Di edisi yang ketujuh ini kami ingin mendokumentasikan karya teman-teman semampu kami. Meskipun ada pergeseran konten dari sebelumnya yang berisi 60% ilustrasi dan 40% tulisan, kini dibalik agar tidak terlalu dominan ilustrasinya. Jadi jangan kaget kalo nanti liat isinya benar-benar kayak majalah (tertawa).

Ini juga salah satu respon kami terhadap teman-teman yang banyak memberi masukan. Jadi, jika sebelumnya kami ingin agar teman-teman memfokuskan pada karya, kini kami ingin memfokuskan teman-teman pada konten tulisan. Karena memang pada edisi kali ini, setiap konten yang masuk banyak membawa nilai, propaganda, ataupun keyakinan tertentu yang ingin kami gali.

Untuk konten tulisan, akan ada tiga buah artikel yang dimuat, salah satunya membahas manfaat tanaman ganja. Ini sebenarnya di luar konteks, tapi ini jadi langkah strategis agar bagaimana caranya agar kami dapat memancing opini dari teman-teman yang lain. Jadi ada ruang bagi kita untuk berinteraksi.

Foto dok. Painsugar

Total ada 68 halaman, lumayan tebal. Desain sampulnya dibuat oleh Rangga Lawe menggunakan cukil kayu. Menampilkan obyek genderless, dipenuhi dengan insulin yang ditusuk ke dalam tubuhnya, simbol modernitas sudah masuk ke dalam tubuh dan membuat candu bagi diri kita. Di belakang obyek utama juga terdapat gambar kunci pemutar (seperti yang ada pada mainan anak) dimana mengibaratkan kita semua sudah dikendalikan agar tidak lagi punya inisiatif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here