Dalam waktu dekat kolektif Semarang Grindcore Kartel akan kembali menggelar hajatannya, apalagi kalau bukan “Detonasi: Semarang Grindcore Festival”. Helatan musik yang diorganisir secara swadaya ini rencananya diadakan rutin tiap tahun di Semarang dengan melibatkan band-band grindcore dari berbagai kota. “Detonasi” sukses digelar untuk yang pertama pada bulan Februari 2017 lalu.

Menginjak tahun kedua, “Detonasi” siap digelar kembali. Gaungnya telah diumumkan beberapa waktu lalu, lewat gig bertajuk “Panic Sirens 4” yang digelar pada tanggal 23 Maret 2018 di GCafe Resto and Beer House, Semarang. Selain untuk pemanasan, gig tersebut juga ditujukan sebagai kegiatan galang donasi menyambut “Detonasi Vol. 2”.

“Karena biaya produksi acara selama dua hari yang terbilang cukup besar, teman-teman berinisiatif untuk menggalang donasi. Saya pribadi kurang berkenan dengan metode ini, tapi karena sebagian besar teman-teman panitia yang notabene juga tergabung dalam band-band yang akan main di “Detonasi Vol. 2” merasa tidak keberatan, saya pun ikut mengamini kesepakatan tersebut,” ujar Manusia Kera, koordinator acara sekaligus penggagas kolektif Semarang Grindcore Kartel.

Penampilan grup AK//47 dalam acara galang donasi, “Panic Sirens 4” (23/3). Foto dok. AK//47

Acara tersebut sukses menarik perhatian lewat penampilan beberapa band di luar lingkup grindcore seperti Don’t Look Back, Recovery, The Joints, Siranda Street Rocks, Samber Nyawa serta Syndrome. “Panic Sirens 4” juga menjadi jujukan pertama grup seminal grindcore, AK//47, dalam rangkaian tur singkatnya di Indonesia.

baca juga: “Loncati Pagar Berduri” Joglosemar Tour 2018

“Detonasi Vol. 2” rencananya digelar pada hari Sabtu dan Minggu, 21-22 Juli 2018, bertempat di Villa Alam Raya, Bandungan, Semarang. Melibatkan puluhan band dari kota-kota seperti Bandung, Malang, Sukabumi, Salatiga, Trenggalek, Bawen, Ngawi serta beberapa band dari Semarang sendiri.

“Detonasi” berupaya menjadi ruang, saluran katarsis sekaligus selebrasi bagi para pelaku musik khususnya yang berada dalam pakem grindcore. Kebanyakan para pelaku musik grindcore di Semarang, kebingungan untuk mengidentifikasi identitasnya, apakah sebagai band hardcore/punk dengan sub-genre seperti thrashcore/power violence atau deathgrind yang berangkat dari skena metal. Padahal, grindcore memiliki parameter yang jelas dalam konteks identitas.

Helatan ini juga digagas guna membentuk sekaligus memelihara kemandirian dalam tubuh kolektif. “Pada intinya acara ini ingin memelihara budaya independensi sekaligus semangat kolektifitas dalam bermusik, selain merayakan grindcore itu sendiri. Para pelaku musik grindcore disini juga banyak yang tidak hanya bermain musik saja, mereka membikin zine, mengorganisir gig independen, merekam dan mendistribusikan rilisannya juga secara swadaya dengan membangun jaringan pertemanan yang kuat. Dalam budaya anak muda, kemandirian adalah salah satu yang menjadi penanda karakter,” pungkas Manusia Kera.

Menurutnya, etos kerja D.I.Y (Do It Yourself) erat hubungannya dengan pemahaman tentang kemandirian. Seperti yang ia katakan sebelumnya, bahwa budaya anak muda erat dengan independensi. Salah satu penopang utama dalam independensi adalah kemandirian itu sendiri. “Menjadi musisi yang mandiri itu bukan hal yang salah, loh. Membanggakan malah.” Ia juga berharap, lewat pagelaran musik ini skena musik grindcore khususnya di Semarang semakin berkembang dan bisa memberi sumbangsih terutama dalam hal pengembangan budaya anak muda. (Af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here