Tanpanada Rilis Video Klip dari Single Terbaru, “Bertapa”

Buah Kontemplasi Yang Lebih Jernih Grup Rock Eksperimental Kota Semarang

0
31
Foto dok. Tanpanada

Usai album Diorama Kakofoni (Neverstop Recording, 2017) resmi diluncurkan secara digital jelang tutup tahun kemarin, grup musik Tanpanada baru-baru ini kembali membuat gejolak lewat karya terbarunya. Kali ini, unit eksperimental asal Semarang tersebut meluncurkan karya berupa single dengan judul, “Bertapa”.

Single tersebut dirilis hari Selasa (26/6) kemarin dalam bentuk video musik yang digarap videografer, Tri Setio Anggoro dan Panji Rochmat Afrizal. Menampilkan koreografi nan estetik dari Kidung Paramadita serta personil Tanpanada sendiri, Aristyakuver, dalam nuansa monokrom hitam dan putih.

“Memang membawa konsep warna hitam dan putih. Kami mencoba menampilkan gerak tubuh berselaras dengan alunan alam. Manusia, hidup di realitas dalam dirinya dan di luar dirinya. Alam, sosial, serta budaya. Kesadaran untuk hidup agar lebih hidup,” ujar Aristya. Penggarapan video klip “Bertapa” sendiri dilakukan di beberapa lokasi yang umum diketahui oleh warga Semarang yakni Hutan Tinjomoyo, Kota Lama dan Taman Budaya Raden Saleh.

baca juga: Grup Rock Eksperimental, Tanapanada Rilis Video Klip “Tanda Tanya (?)”

Setelah melakukan banyak eksplorasi antara musik dan sastra puisi, “Bertapa” hadir sebagai buah kontemplasi yang lebih jernih. Meramu musik berkecepatan 166 ketukan per menit dengan titian 4 menit 38 detik, kali ini Tanpanada mengeksplorasi bunyi-bunyi misterius dengan gaya bahasa puisi yang cukup abstrak.

Tanpanada sebelumnya dikenal dengan nada-nada distortif nan cadas. Namun berbeda, kali ini mereka justru memilih nuansa akustik. “Kami anggap akustik merupakan kejernihan. Alat tiup dari Jepang, Shakuhachi melengkapinya. Seruling itu, dalam konsepnya, mempunyai lantunan yang bersinergi dengan air. Aliran yang jernih,” ujar Aristya.

Di pertengahan lagu, masuk alat musik tradisional bernama Karinding khas Jawa Barat dan Genggong khas Bali yang sekaligus menjadi latar deklamasi puisi. Alat musik tradisi persawahan ini membentuk ruang kontemplasi yang dalam. “Lagu “Bertapa” bagi kami mewakili proses kontemplasi dalam kejernihan diri. Seperti sebuah perjalanan yang tidak pernah berhenti. Mulai lahir, tua, hingga mati,” tutupnya. (Af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here