Provokata - Hantu Utopia

Tak ada lagi puisi-puisi urban yang dibacakan oleh Provokata. Paling tidak, hal itu tercermin dalam album kedua mereka. Berbeda dengan Catatan dari Sudut Kota (Provokata, 2014), kali ini Provokata cenderung mengangkat tema plural dengan bahasa lirik yang lebih lugas. Album ini—atau sebut saja sebagai album mini—berisi lima buah lagu dan tiga di antaranya bahkan menyentuh kulit mistikisme. Dari segi tata suara, album mini ini belum bisa dibilang lebih rapi jika dibandingkan dengan Catatan dari Sudut Kota. Entah hal itu merupakan teknis yang disengaja atau bukan, saya tidak tahu. Seperti halnya yang dilakukan oleh punk ortodoks, album mini ini menyuguhkan sesuatu yang lo-fi. Yang pasti, Provokata masih berpegangan pada akarnya, yakni tetap memainkan grindcore sesuai dengan yang mereka yakini—pseudo-grindcore, grindcore yang liplap.

baca juga: Provokata Rilis Album Mini, “Hantu Utopia”

Hantu Utopia (Stonedzombies, 2018), begitu Provokata menyebut album mininya ini, berdurasi total sekira 5–6 menit. Tiap lagunya memang terbilang sangat singkat—terlalu singkat untuk menghasilkan keringat, terlalu cepat jika dilewatkan. Namun, hal ini tidak mengurangi harapan bahwa Provokata masih memiliki kemampuan untuk membuat kita berada dalam posisi yang “tidak aman”. Bagi mereka, mimpi-mimpi abadi manusia tentang sesuatu yang nyata dan tidak tetaplah menjadi tanda tanya yang mengganggu, seperti gagasan-gagasan Tan Malaka dalam “Logika Mistika”.

Album mini ini dibuka dengan “Manekin dalam Dekonstruksi Parnasian”. Sejak awal, tepatnya setelah introduksi, grindcore yang liplap sudah tampak. Mereka tak langsung tancap gas, melainkan mengisi bagian itu dengan semacam rap bertempo sedang. Setelah bagian ini selesai, saya membayangkan keributan yang segera saja dimulai. Dilihat dari liriknya, lagu ini menyimpan sentilan terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, yang hanya menjadikan deretan angka sebagai acuan kemapanan. Tak hanya itu, pandangan masyarakat terhadap peran mahasiswa dan/atau sarjana juga menjadi sasaran. Rasa-rasanya, lagu ini tercipta dari cerminan pribadi salah satu personel Provokata, mungkin bahkan semua personelnya, terlebih mereka pernah mengunggah foto bertuliskan “Hantu sarjana: pengangguran mencari tumbal”. Ingat “Sarjana Muda” milik Iwan Fals?

Pada lagu kedua, “Manusia X Tuhan”, pola permainan gitar seperti halnya yang terdengar pada beberapa lagu dalam Catatan dari Sudut Kota muncul kembali. Alih-alih memainkan power chords, hal-hal monoton justru tampil ke permukaan. Dibandingkan dengan lagu pertama, lagu kedua ini lebih terkesan lo-fi—ya, kalau tidak ingin disebut kurang maksimal. Mari dengarkan secara saksama, apakah kita sama-sama berpikir bahwa vokalis Provokata sedang kehabisan energi? Pada “Manusia X Tuhan” ini, yang menurut sumber terpercaya bukanlah judul lagu sebenarnya, tempo yang disuguhkan justru menurun. Meski begitu, puisi pada bagian bridge sepertinya bisa menjadi tanda bahwa sindikat ini bisa menyaingi grup-grup pop/folk—tolong siapkan secangkir kopi, berbatang-batang rokok, dan hujan buatan! Omong-omong, mistikisme pertama sedang dilantunkan dalam lagu ini.

Beralih ke “Bunga Terakhir Peradaban”, saya pikir bahwa lagu ini memiliki introduksi yang “gemuk”, semacam kepalan tangan yang diayunkan ke arah dagu. Terlepas dari vokal yang meleset sekian detik daripada yang seharusnya dan masih terdengar kelelahan, “kepalan tangan” itu memang muncul hingga bagian akhir. Awalnya, saya pikir lagu ini akan memiliki hubungan erat dengan “Bunga Penutup Abad”, lakon yang diadaptasi dari karya besar Pram. Yang ada, justru lain sama sekali. “Bunga Terakhir Peradaban”, seperti judulnya, menyimpan cerita mengenai hari akhir. Kemungkinan besar, penulis lirik lagu ini menjadikan sesuatu yang tertulis di kitab suci sebagai referensi.

Untuk “Vox Acta Diurna, Vox Dei” dan “Silenus (27:2)”, saya tidak akan menginterpretasikannya panjang lebar. Dua lagu ini sudah lebih dahulu mengudara melalui album kompilasi And No One Can Prevent This Rage to Born!!! (Stonedzombies, 2016). Yang jelas, tata suara dua lagu terakhir ini terdengar sedikit kontras daripada tiga lagu sebelumnya.*

Oleh Abrawidya Satwika
Penulis lahir dan tumbuh di Semarang. Kini memilih hidup di Jakarta bagian selatan.

Hantu Utopia
Band: Provokata
Release Date: April 2018
Record Label: Stonedzombies

Track:

  1.  Manekin dalam Dekonstruksi Parnasian
  2.  Manusia X Tuhan
  3.  Bunga Terakhir Peradaban
  4.  Vox Acta Diurna, Vox Dei
  5.  Silenus (27:2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here