Laut Bercerita (Kepustakaan Populer Gramedia, 2017)

Di hari kematianku
Nyalakan apimu
Karena satu jiwa kandas
Tak akan menghilangkan
Rindu pada keadilan

Maka di hari kematianku, kawan
Pastikan suaraku datang laut
Pastikan jiwaku menjadi bagian dari api
Pastikan rohku menghidupi sajak ini
Biarkan kata-kataku meniupkan roh perlawanan ini

(“Di Hari Kematianku”, Laut Bercerita, hlm. 60–61)

Rezim Orde Baru tumbuh subur di atas remah-remah gejolak 1965; menjadi api selama 32 tahun, menyala-nyala, dan menghanguskan yang tampak dan tidak. Perlawanan dan aktivisme pun kerap dilancarkan untuk meruntuhkan rezim otoriter itu, tetapi cenderung berujung pada pembungkaman. Dilatarbelakangi kondisi perekonomian yang semakin memburuk pada pertengahan dekade 1990-an, masyarakat seolah memiliki musuh bersama yang harus segera ditumbangkan: Orde Baru. Perlawanan pun semakin gencar dilakukan, hingga pada akhirnya dinasti yang telah berurat-berakar di Indonesia itu mengalami kejatuhan pada Mei 1998. Namun, hari-hari setelah keruntuhan rezim tersebut seolah menjelma jadi waktu yang tak pernah berakhir bagi pihak-pihak yang menjadi korban, bahkan hingga sekarang.

Selain tragedi 1965, kisah-kisah mengenai tragedi 1998 selalu menjadi isu penting untuk dibicarakan. Berakhirnya rezim Orde Baru tentu bukanlah hal yang mudah terjadi. Di balik semua itu ada sesuatu yang tidak murah dan tidak bisa dinilai oleh apa pun. Periode tersebut menambah daftar sejarah kelam yang dimiliki Indonesia. Provokasi berlatar belakang sentimen SARA, penjarahan, dan kerusuhan pecah di beberapa kota—entah diorganisasi atau tidak. Aktivis-aktivis prodemokrasi juga “diambil” oleh aparat. Di antara korban penculikan itu memang ada yang kembali, tetapi ada juga yang nasibnya masih belum jelas sampai hari ini. Aktivis yang selamat bertutur bahwa selama diculik, mereka mengalami interogasi disertai kekerasan. Kisah-kisah mereka pun mampu menjadi lonceng yang selalu berdentang keras. Mereka tak hanya merawat ingatan banyak orang, tetapi juga menjadi lidah yang terus bercerita kepada generasi selanjutnya. Terlebih pada 17 September 1998, keluarga korban berinisiatif membentuk Ikatan Keluarga Korban Orang Hilang Indonesia (IKOHI) guna memperjuangkan pengungkapan hukum terhadap kasus pelanggaran HAM pada masa itu.

Bisa dibilang, Leila S. Chudori merupakan salah satu penulis yang memiliki fokus terhadap isu-isu HAM di Indonesia. Wartawan Tempo yang baru saja menjalani masa purnakarya itu menulis novel Pulang (Kepustakaan Populer Gramedia, 2012) dengan latar cerita mengenai tiga peristiwa bersejarah: Indonesia pada September 1965, revolusi mahasiswa di Prancis pada Mei 1998, dan Indonesia pada Mei 1998. Lima tahun setelah peluncuran Pulang, ia kembali meluncurkan novel keduanya, berjudul Laut Bercerita (Kepustakaan Populer Gramedia, 2017). Sama seperti halnya yang dilakukan terhadap Pulang, Leila membungkus narasi sejarah dengan balutan fiksi pada Laut Bercerita. Pada novel keduanya ini, ia mengisahkan sosok mahasiswa sekaligus aktivis prodemokrasi bernama Biru Laut Wibisono dalam tragedi 1998 di Indonesia.

Novel ini bukanlah fiksi yang mutlak. Leila sempat melakukan riset dan wawancara terhadap aktivis prodemokrasi 1998 yang selamat untuk menuliskan cerita demi cerita secara detail. Sebelum memulai proses penulisan Laut Bercerita, Leila mengaku bahwa dirinya sempat membaca testimonium aktivis prodemokrasi yang “kembali”. Bagi ia, testimonium-testimonium itu sangat naratif dan kronologis. Saat Leila masih bekerja di Tempo, ia pernah diminta menangani edisi khusus Soeharto. Dari sanalah ia berangkat, merangkai Laut Bercerita.

Membaca Laut Bercerita, bagi saya adalah upaya membuka kembali ingatan mengenai masa kecil. Saya memang tidak mengalami (melihat) tragedi itu secara langsung, karena saya tumbuh di Semarang, kota yang cukup jauh dari Jakarta, yang saat itu relatif lebih “sepi” jika dibandingkan dengan Solo sekalipun. Namun, saat itu saya sudah melihat kumpulan foto mengenai demonstrasi yang dilakukan oleh tante dan kawan-kawannya, mahasiswa Semarang. Saya, yang pada 1998 masih kelas 2 SD, pun membaca beberapa artikel pergerakan yang disimpan tante, antara lain tentang Kudatuli dan manifesto politik Megawati. Paling tidak, gambaran mencekam pada masa itu sudah terekam, terutama mengenai kerusuhan yang ditayangkan program berita kanal-kanal televisi nasional. Beranjak SMA hingga kuliah, saya mulai mencari-cari informasi terkait tragedi 1998 dari berbagai sumber. Hingga kini, masih banyak hal yang abu-abu mengenai hal itu.

Novel berbasis sejarah tentunya memiliki afiliasi dengan kejadian nyata. Dalam hal ini, saya pernah membaca sebuah artikel mengenai penculikan aktivis, yakni kesaksian Nezar Patria dalam “Di Kuil Penyiksaan Orde Baru”, Tempo, Februari 2008. Kesaksian Nezar itu pun disajikan secara gamblang di dalam Laut Bercerita, termasuk latar waktu dan tempat, tetapi tentu dengan pengubahan nama tokoh. Selama membaca novel ini, saya pun mengira-ngira keterkaitan antara sosok tokoh dalam cerita dan tokoh asli. Salah satunya, dikisahkan bahwa Biru Laut begitu mengagumi sosok penyair—salah satu puisinya saya kutip di awal artikel ini—yang menurut saya adalah sosok Wiji Thukul. Selain kesaksian Nezar mengenai “Rumah Susun Klender”, konstelasi sejarah masa itu pun diceritakan oleh Leila, antara lain aksi solidaritas aktivis mahasiswa kepada petani di Blangguan (Jawa Timur) serta pembubaran dan pelarangan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap Partai Rakyat Demokratik (PRD) menyusul kerusuhan 27 Juli 1996. Detail lainnya di dalam novel ini tidak akan saya ceritakan kembali. Yang pasti, ada kemarahan yang muncul di setiap kronik ceritanya, terutama terkait represi yang dilakukan aparat kepada para mahasiswa selama diculik.

Laut Bercerita tak melulu menyuguhkan adegan kekerasan yang dialami oleh para aktivis. Sebagai eks wartawan, Leila tentu memiliki pandangan lebih dalam terhadap sebuah isu. Hal itu pun kemudian dijadikan Leila sebagai “mahkota” novel ini. Jika kita pernah membaca dan/atau mendengar cerita yang dialami oleh keluarga salah satu korban penculikan yang tak kunjung pulang hingga hari ini, Noval Alkatiri, itulah yang disuguhkan oleh Leila. Dalam novel, kisah itu dialami oleh keluarga Biru Laut. Hampir setiap malam, ayah Biru Laut masih menyiapkan piring di meja makan untuk empat orang, tentu saja termasuk untuk Biru Laut. Padahal saat itu Biru Laut sudah berada di dalam sel bersama beberapa kawannya. Harapan untuk berkumpul seperti sediakala masih saja dirawat oleh ayah Biru Laut. Pada bagian ini, saya merasakan ada sembilu yang menggores batin.

Aksi Kamisan ke-500 di Jakarta (27/7/17). Foto dok. Galang Aji Putro

Kehilangan sesuatu tentu merupakan hal yang biasa, karena yang ada saat ini pun akan kembali ke dalam sebuah ketiadaan. Namun, yang dirasakan oleh keluarga korban penghilangan aktivis prodemokrasi 1998 merupakan duka yang tak dapat terperikan. Hingga saat ini, menjelang 20 tahun tragedi 1998, mereka masih terus mencari meskipun tidak mengetahui kejelasan nasib anak-anak mereka; hidup atau mati. Mereka masih setia menunggu kepulangan para aktivis itu untuk sekadar mengetuk pintu dan berpelukan di teras rumah. Mereka masih kuat berdiri di depan Istana Merdeka pada setiap Kamis dengan payung hitam sebagai bentuk dukacita dan pengingat bagi presiden untuk segera menuntaskan setiap kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Hingga saat ini, mereka masih merawat unggunan api itu.*

Oleh Abrawidya Satwika
Penulis lahir dan tumbuh di Semarang. Kini memilih hidup di Jakarta bagian selatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here