Parodi Lukisan “The Last Supper” Dalam Mural Rudy Murdock

Perjamuan Dua Kubu Seri Komik Pahlawan Super Dalam Satu Meja Makan

0
151
Foto oleh Rudy Murdock

Seniman dan pemusik asal Semarang, Rudy Murdock, baru saja meresmikan karyanya pada Jumat (13/4) kemarin. Karya mural berukuran kurang lebih 5×16 meter yang diberi judul “The Last Supper 2: Ode to Leonardo Da Vinci” tersebut, kini menghiasi halaman belakang Semarang Contemporary Art Gallery. Seperti judulnya, pentolan grup musik veteran, Radical Corps ini mengangkat kembali karya maestro, Leonardo Da Vinci, yang bisa dibilang merupakan karya paling kontroversial sekaligus terbesar di abad Renaisans.

baca juga: Radical Corps Siapkan Album Keempat

Tanpa bermaksud menyinggung nilai keagamaan dalam karya asli “The Last Supper” (karya aslinya bercerita tentang perjamuan Yesus bersama murid-muridnya sebelum dikhianati oleh Yudas), Rudy memparodikan adikarya Da Vinci dengan mengganti tokoh-tokoh dalam lukisannya dengan tokoh-tokoh pahlawan super seperti yang diangkat dalam seri komik terkenal, Marvel dan DC. Alhasil “The Last Supper” versi Rudy pun menampilkan berbagai tokoh pahlawan super seperti Superman, Wonder Woman, Supergirl, Hulk, Iron Man, Thor, Captain America, Batman dan lainnya, duduk dalam satu meja makan.

The Last Supper 2: Ode to Leonardo Da Vinci

Tampak pula tokoh utama dalam mural ini, yakni Superman, tengah memegang gawai dan melakukan swafoto bersama tokoh pahlawan super lainnya. Rudy juga mengangkat isu lokal dengan melukis Gereja Blenduk pada latar belakang muralnya, serta hidangan perjamuan a la Mie Ayam Pak Pin, lengkap dengan es teh gelas jumbo dan mangkok keramik berlukiskan ayam jago.

Ya, anda pasti bingung. Terutama di bagian tokoh pahlawan super dalam dua seri komik berbeda yang dipertemukan dalam satu ‘meja makan’. Bagi penggemar komik sejati, hal ini adalah penistaan, Rudy bisa diganyang atau bahkan dibuatkan demo berseri. Tapi ia sudah mengantisipasi hal tersebut. Ia dengan karya mural “The Last Supper”-nya memiliki makna sendiri. Seperti yang ditulis dalam harian Kompas (3/3/2018), Rudy mengingatkan kita tentang filosofi meja makan yang sekarang mulai dilupakan. Penyelesaian masalah tidak harus diselesaikan dengan cara kekerasan, namun bisa juga dengan cara santai.

Kurator seni rupa, Rahman Athian, memaknai sendiri karya “The Last Supper 2: Ode to Leonardo Da Vinci” milik Rudy sebagai gambaran maskulinitas khususnya dalam dunia seni rupa. Pun dengan Ahmad Khaerudin (Adin) selaku direktur Kolektif Hysteria yang turut mengapresiasi karya “The Last Supper” milik Rudy. Ia menyebut bahwa Rudy mampu memasukan kepribadiannya dalam mural tersebut. Ia berusaha memberi inspirasi bagi banyak orang khususnya masa depan seni visual di kota Semarang.

Di panel lain berukuran 5×4 meter, Rudy melukiskan tokoh pahlawan super lain yang kini juga tengah naik daun, Spiderman. Ia menampilkan sosok manusia laba-laba tersebut tengah makan di sebuah warung nasi, terpisah dari tokoh-tokoh pahlawan ‘besar’ lainnya. Dibalik pertanyaan-pertanyaan serta analisa serius tentang karya muralnya, Rudy nampak menanggapi dan menjawabnya dengan santai, seperti yang ia sampaikan dalam sesi diskusi yang berlangsung di Semarang Contemporary Art Gallery beberapa waktu lalu. “Spiderman itu memang dibiarkan sendirian karena dia masih kecil, bau kencur dan tidak tahu apa-apa,” ujar Rudy.

Di luar perdebatan baik tentang karya asli “The Last Supper”, makna yang ditampilkan serta hal-hal serius lainnya. Karya mural milik Rudy ini merupakan satu-satunya karya seniman Semarang yang berhasil masuk dalam Semarang Contemporary Art Gallery, 16 meter sisan! Rudy sendiri memulai penggarapan mural “The Last Supper 2: Ode to Leonardo Da Vinci” sejak pertengahan Januari kemarin hingga selesai pada 19 Maret 2018. Diterpa hujan dan terik matahari, Rudy secara teliti memilih warna hingga jenis cat untuk digunakan dalam pembuatan mural tersebut. Ia berharap, karyanya dapat dinikmati setidaknya hingga lima tahun ke depan. (Af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here