Bunyi Halaman Belakang: Mengalun Khidmat Bersama Ali Gardy

0
118

Kolektif Hysteria beberapa hari lalu menggelar sebuah konser mini bertajuk,”Bunyi Halaman Belakang” (17/4). Seperti tajuknya, acara musik tersebut digelar secara sederhana di halaman belakang rumah yang beralamat di Jalan Stonen No. 29, Bendan Ngisor, Semarang. Dalam konser mini tersebut, Kolektif Hysteria mengundang salah seorang seniman asal Situbondo, Ali Gardy, untuk melakukan pertunjukan.

Andy Sueb (Kiri) dan Aristya Kuver (Kanan) melakukan kolaborasi.
Aristya Kuver (Tanpanada) sedang membacakan syair.

Konser mini “Bunyi Halaman Belakang” dibuka lewat penampilan kolaborasi dua orang seniman, yakni Andy Sueb (Racau Kemarau) dan Aristya Kuver (Tanpanada). Sueb dan Aris berduet membawakan komposisi eksperimental dengan syair-syair yang dilantunkan dengan geram. Semerbak dupa mengharum, mengiringi sajak yang keluar bersama bebunyian ‘bising’ nan menggema, menghipnotis puluhan penonton yang hadir malam hari itu. Magis.

Usai menampilkan kolaborasi antara Sueb dan Aris, kini giliran Ali Gardy yang siap naik ke panggung kecil bergambar latar Tan Malaka karya Isrol (Media Legal). Dalam penampilannya, Ali membawakan 4 buah komposisi instrumental yang sukses membangkitkan nuansa spiritual yang harmonis lagi misterius. Sesekali ia juga merapal mantra. Selain alat musik petik, Ali juga memainkan beberapa alat musik tiup seperti Saluang dalam pertunjukannya. Pertunjukan musik yang dilakukan Ali Gardy sangat tidak biasa. Ia mengawinsilang nada-nada pentatonis dengan karakter musik modern menggunakan instrumen ciptaannya bernama Dawai Karmawibangga.

Penampilan Ali Gardy dalam konser mini “Bunyi Halaman Belakang” di Grobak Art Kos, Selasa (17/4).

Terinspirasi Dari Relief Candi Borobudur

Dawai Karmawibangga buatan Ali Gardy. Foto dok. Ali Gardy

Dawai Karmawibangga adalah alat musik petik menyerupai Sampeq Dayak dari Kalimantan atau Samisen dari Jepang. Ali menggunakan Dawai Karmawibangga di tiap pertunjukan yang ia lakukan. “Alat ini diberi nama Solawa oleh maestro Dewa Budjana,” tuturnya.

Dilansir dari Japung Nusantara, bentuk dawai tersebut berasal dari relief Karmawhibangga yang terdapat pada Candi Borobudur. Relief Karmawibangga berisi tentang hukum sebab akibat. Bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Selain itu, relief Karmawibangga melukiskan gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa kuno, termasuk aktivitas kesenian, baik kesenian musik maupun tari.

Awalnya, Ali membuat alat musik tersebut untuk digunakan pada helatan “Borobudur Cultural Fest” tepatnya dalam sesi bernama “Sound Of Borobudur” tahun 2016 lalu, bersama dua dawai lain buatannya yang diberi nama “Gasona” dan “Gasola”.

Konsep tersebut digagas untuk menghadirkan kembali alat-alat musik yang tergambar pada relief Karmawibangga di Candi Borobudur dalam wujud fisik dan membunyikannya kembali sebab instrumen yang terdapat dalam relief tersebut merupakan salah satu representasi kekayaan seni budaya dan kemajuan peradaban nusantara yang dicapai nenek moyang kita 13 abad yang lalu.

Eksplorasi Musik Nusantara lewat “Nusantara Rhythm”

Sebagai seorang seniman, Ali memiliki misi, salah satunya untuk melestarikan budaya tradisional khususnya alat musik. Hal itu dibuktikan lewat tajuk “Nusantara Rhythm” yang ia gadang. Pria berusia 27 tahun tersebut coba menggali lebih dalam khazanah musik nusantara lewat berbagai instrumen tradisional serta nada-nada bernuansa etnik yang ia mainkan. “Kebanyakan musisi memasukan unsur tradisional ke dalam musik mereka (modern), tapi yang saya lakukan adalah memasukan musik modern menggunakan alat tradisional,” ujar Ali.

Kepiawaiannya dalam memainkan musik telah mengahantarkan langkahnya ke berbagai penjuru negeri. Dari kota-kota besar hingga ke pelosok, konser di belakang rumah hingga panggung musik besar, semua telah ia jejaki. Ia membuat musik tradisional jadi lebih menarik untuk didengar, khususnya dengan arus musik populer yang diandrungi anak muda saat ini. Nada-nada bernuansa etnik dan melodius, kadang sedikit kasar, mampu membius atensi menuju kekhidmatan.

Di samping itu, Ali Gardy tergerak atas dasar keprihatinannya kepada generasi muda (termasuk dirinya sendiri) yang semasa sekolah mengenal alat musik tradisional hanya lewat gambar poster. Ia berkali-kali juga menegaskan sembari mengagumi kekayaan musik nusantara yang serba memiliki nilai serta karakteristik yang tidak terdapat pada musik manapun.

Sebagai seorang seniman, untuk saat ini Ali Gardy belum terbesit untuk merekam semua komposisi yang ia mainkan. “Sebab yang saya lakukan adalah performance art, jadi saya lebih suka penonton melihat langsung penampilan saya. Pun mereka juga bisa ikut meraskan dan menghirup bau dupa, yang mungkin tidak bisa mereka rasakan apabila hanya didengar lewat dokumentasi audio,” ujar Ali. Namun dirinya tidak menampik kemungkinan kedepan, dirinya akan membuat sesi rekaman untuk karya-karyanya menggunakan perangkat rekam yang mumpuni sehingga dapat menghasilkan kualitas audio yang baik.

Simak juga beberapa karya serta penampilan Ali Gardy melalui kanal YouTube miliknya. (Af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here