Widya Mitra Heritage Walk X: Menyusuri Warisan Tionghoa dari Wotgandul hingga Sebandaran

0
271

Sebagai Ibukota Jawa Tengah, Semarang memang bukan salah satu destinasi pariwisata tersohor. Meski begitu, sejak awal terbentuk, kota ini menyisakan banyak cerita, tempat serta beberapa bangunan bersejarah seperti Kota Lama atau Lawang Sewu. Kota Semarang, dengan latar belakangnya sebagai kota dagang, juga mempunyai situs-situs penting mulai dari kampung kota, bangunan dan sejenisnya, sebagai tempat bermuara berbagai tradisi dan budaya. Setidaknya, ada tiga unsur kebudayaan yang sangat kental di Semarang, yang berasal dari tiga etnis berbeda yakni Jawa, Arab dan Tionghoa. Ketiga kultur tersebut juga direpresentasikan kedalam makhluk imajiner bernama, “Warak Ngendog”. (baca juga: Art Toys Custom Exhibition: “Waaraa” Dan Berbagai Variasi Warak Ngendog)

Foto dok. Abdul Arif (Beritagar.id)

Kali ini, saya mencoba menyusuri jejak warisan yang terletak di kawasan Pecinan Semarang. Kawasan wisata budaya Tionghoa ini memiliki nilai historis yang tak kalah penting dari Kota Lama. Didalamnya, terdapat berbagai situs maupun tempat menarik yang jarang diketahui masyarakat (juga dari sisi historisnya).

Melalui agenda “Widya Mitra Heritage Walk X” yang dilaksanakan hari Minggu (3/12) kemarin, saya bersama beberapa rombongan menyusuri berbagai situs maupun tempat bersejarah di kawasan Pecinan Semarang. Agenda ke-10 yang diinisiasi Yayasan Widya Mitra dan EIN Institute ini, diselenggarakan guna memperkenalkan sekaligus membangun kesadaran masyarakat akan situs dan warisan penting khususnya yang ada di Semarang maupun sekitarnya.

Berikut adalah beberapa dokumentasi perjalanan saya menyusuri Jalan Wotgandul, Gang Gambiran hingga Sebandaran. Singgah ke beberapa lokasi penting yang cukup membuat saya terkesima.

Rumah Kopi “Margorejo”

Perjalanan saya bersama rombongan “Widya Mitra Heritage Walk X”, dimulai dari kawasan Wotgandul (dahulu bernama Kebon Karang), sekaligus menyambangi obyek pertama kami, Rumah Kopi “Margorejo”.

Rumah Kopi “Margorejo”, Wotgandul.

Apabila kalian pecinta kopi, tempat ini adalah destinasi yang cocok bagi yang ingin menikmati berbagai suguhan kopi Nusantara. Rumah sekaligus tempat usaha beralamatkan di Jl. Wotgandul Barat No. 12 ini, berdiri sejak tahun 1928. Didirikan pertama kali oleh Tan Tiong Le, usaha miliknya ini sangat berkembang di era Hindia Belanda. Meski sekarang usahanya tidak sebesar dulu, tempat ini merupakan obyek penting sekaligus berperan dalam sejarah perdagangan kopi di Semarang.

Klenteng Sio Hok Bio

Setelah mengunjungi obyek pertama, kami bertolak menuju Gang Baru. Menjumpai klenteng tertua di kawasan Pecinan Semarang, Klenteng Sio Hok Bio. Klenteng ini merupakan bangunan bersejarah yang didirikan pada tahun 1758 oleh masyarakat di kawasan tersebut. Yang menarik, patung-patung dewa yang diletakan di Klenteng Sio Hok Bio merupakan patung yang didatangkan langsung dari Negeri Tirai Bambu kala itu.

Klenteng Sio Hok Bio, Gang Baru.

Klenteng Sio Hok Bio sendiri dibangun tepat di ujung Gang Baru. Hal ini bukan tanpa alasan. Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, semua energi jahat selalu berada di ujung-ujung gang. Maka dari itu, mereka membangun klenteng tepat di ujung gang (biasa dikenal dengan istilah “tusuk sate”) dengan tujuan agar masyarakat di kawasan Pecinan terlindung dari energi-energi jahat.

Rumah Kertas

Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, mereka yang masih hidup bisa mengirimkan sesuatu kepada yang telah meninggal untuk digunakan di ‘alam sana’. Contoh kasus; semisal ada kerabat yang meninggal, kita bisa memberikan dia rumah untuk dia tinggal di alam sana. Caranya dengan kita memberi sesembahan berupa miniatur rumah yang terbuat dari kertas, lalu dibakar dengan upacara dan doa khusus. Abu bekas ‘rumah ‘ tadi kemudian dilarung di laut, niscaya barang yang kita kirim akan sampai ke tujuan. Hal ini tentu merupakan hal yang unik lagi menarik.

Sesembahan berupa miniatur rumah yang terbuat dari kertas.
Pak Ong, pengrajin Rumah Kertas di kawasan Pecinan Semarang.

Di Semarang, tepatnya di kawasan Pecinan, juga terdapat pengrajin sesembahan berupa miniatur dari kertas yang berdiri sejak tahun 1860. Pak Ong, generasi ke empat yang juga penerus Rumah Kertas ini mengatakan, selain membuat miniatur rumah, ia juga membuat berbagai miniatur seperti mobil, becak, TV bahkan parabola.

Rumah “Tjap Kodok”

Kemudian kami menuju Gang Besen. Disana terdapat rumah yang dikenal dengan sebutan, Rumah “Tjap Kodok”. Dahulu, bangunan ini merupakan tempat produksi tegel bernama, “Tjap Kodok”. Yang menarik dari rumah ini adalah corak bangunan yang mewakili tiga budaya yakni Jawa, Tionghoa dan Eropa.

Konstruksi ruang terbuka di dalam bangunan Rumah “Tjap Kodok” (sedang direnovasi).

Rumah “Tjap Kodok” memiliki teras di bagian depan, yang merepresentasikan rumah-rumah adat Jawa yang selalu memiliki teras. Lalu pada lantai satu bangunan, terdapat pagar bercorak Eropa. Dan yang unik, pada bagian tengah ruangan terdapat tempat terbuka yang ditengahnya dibangun sebuah kamar mandi. Konstruksi tersebut merupakan ciri rumah adat Tionghoa. Keunikan Rumah “Tjap Kodok”, sempat terdokumentasi dalam film arahan Hanung Bramantyo, “Tanda Tanya” yang diproduksi beberapa tahun silam.

Rasa Dharma

Rasa Dharma merupakan rumah seni sekaligus perkumpulan etnis Tionghoa tertua di Semarang.  Konon, komunitas ini didirikan oleh sekelompok Tionghoa pengangguran pada tahun 1876. Berbagai macam kegiatan dilakukan disini seperti bermain alat musik, karaoke, memasak, berkumpul dll.

Ukiran kayu bertuliskan nama Mantan Presiden RI, “K.H. Abdurahman Wahid” di rumah seni Rasa Dharma, sebagai bentuk penghargaan telah memperjuangkan keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia.

Di ujung ruangan, terdapat ukiran kayu bertuliskan nama, “K.H. Abdurahman Wahid”. Hal ini ditujukan perkumpulan Rasa Dharma sebagai bentuk penghargaan kepada Mantan Presiden Republik Indonesia ke-4 itu. Gus Dur seperti yang banyak diketahui, juga memperjuangkan etnis Tionghoa untuk dapat diakui keberadaannya di Indonesia. Karena hal itu, beliau dinobatkan menjadi “Bapak Tionghoa Indonesia”. Saat ini rumah Rasa Dharma selalu terbuka bagi siapapun yang ingin bergabung menjadi anggota.

Dalam rangkaian acara “Widya Mitra Heritage Walk X” ini, sebenarnya masih banyak tempat menarik yang saya kunjungi seperti Rumah Kaligrafi, Gedung Tiong Hoa Hwee Kwan, Klenteng Tay Kak Sie dll. Saya juga banyak mendapat informasi terkait sejarah pembentukan kawasan Pecinan Semarang. Salah satunya tentang banyak hilangnya ciri khas bangunan-bangunan adat Tionghoa di kawasan Pecinan akibat atapnya dipotong paksa pada masa Orde Baru.

Salah satu bangunan adat di kawasan Pecinan Semarang yang kehilangan wujud asli, karena bagian atapnya dipotong paksa pada masa Orde Baru dengan alasan, “Pelebaran Jalan”.

Begitu banyak tempat maupun situs menarik yang dapat dikunjungi dan dipelajari di Semarang. Sayang, kebanyakan tempat-tempat ini kurang mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat kota sendiri. Membuat masyarakat mau mempelajari sejarah lingkungannya, nampaknya juga hal yang pelik. Masyarakat sekarang lebih senang berjalan-jalan menuju mal yang baru dibangun atau obyek wisata yang bahkan tidak memiliki narasi mengenai sejarah suatu kota, selain penggusuran.

Semua terkesan acuh pada hal-hal yang menurut saya penting untuk diketahui. Namun saya tidak ingin menghakimi, sebab hal tersebut merupakan hak masing-masing individu. Saya hanya menyayangkan apabila generasi penerus nanti, ‘tidak kenal’ dengan tanah kelahirannya sendiri. Akan sangat disayangkan apabila di masa yang akan datang, bangunan atau tempat-tempat bersejarah tadi berubah menjadi apartemen atau hotel budget, tanpa ada yang merasa kehilangan atas sebagian dari sejarah kotanya. Semoga tidak terjadi. (Yg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here