Pembukaan pameran 13 tahun Kolektif Hysteria, Pekakota Hub, Sabtu (28/10) lalu di Gedung Widya Mitra.

Pekan lalu, salah satu komunitas di Semarang yang aktif bergerak di ranah seni urban, kampung dan kota, Kolektif Hysteria, merayakan 13 tahun perjalanannya dengan rangkaian kegiatan, “Pekakota Hub”, Sabtu (28/10). Kegiatan ini dibagi menjadi dua acara utama, yakni panel diskusi, “Pekakota Forum” dilanjut dengan pembukaan pameran visual malam harinya. Dua rangkaian acara tersebut dikonsep secara epik terkait dengan apa yang telah dilakukan Hysteria selama ini. Alhasil, konsep tersebut dijadikan dasar dari tema-tema diskusi dalam “Pekakota Forum” berikut konten yang divisualisasikan dalam pameran karya.

Dalam perayaan ini, Hysteria juga merangkum konten dari 8 Kampung di Semarang yang telah mereka bentuk sebagai jejaring. Delapan kampung tersebut adalah Kampung Bustaman, Petemesan, Malang, Sendangguwo, Krapyak, Karangsari, Nongkosawit dan Kemijen. Hal ini bertujuan sebagai refleksi Hysteria selama bekerja di kampung, agar kedepan dapat memperbaiki ataupun menemukan cara baru dalam melakukan komitmen untuk kampung dan kota di Semarang. Sebagai laboratorium komunitas, Kolektif Hysteria berkomitmen untuk terus melakukan hal-hal kecil secara konsisten. Menjembatani pemerintah, stakeholder, serta masyarakat lewat berbagai isu urban sebagai upaya membentuk wajah kota.

Direktur Hysteria, Ahmad Khairudin (Adin) menyampaikan bahwa, “Pekakota Hub” juga difungsikan untuk melihat apa saja yang telah dilakukan. “Selain merayakan 13 tahun Hysteria, event ini juga ingin melihat ulang “Pekakota” 5 tahun terakhir yang fokus pada isu kota terutama kampung. Setelah 5 tahun, akhirnya kami merintis jejaring 8 kampung yang menggunakan seni sebagai salah satu bagian aktivitas yang penting,” ungkapnya saat koordinasi persiapan acara “Pekakota Hub”.

Panel diskusi “Pekakota Forum” di Gedung Monod Huis, Kota Lama Semarang (28/10). Foto dok. Hysteria.

Acara ini dirasa mampu memberikan angin segar bagi para anak muda untuk lebih peduli terhadap kota. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Agus Maladi, salah satu pemantik dalam kegiatan “Pekakota Forum” lewat sub tema “Peranan Seni Dalam Membentuk Wajah Gugusan Kampung”, bahwa acara semacam ini menjadi bukti bahwa sebenarnya ada yang peduli dengan kota Semarang. Selain tema diatas, terdapat pula tema lain yang menjadi topik diskusi “Pekakota Forum” diantaranya “Kelas Kreatif dan Masa Depan Tata Ruang”, “Kota Berketahanan”, “Semarang Kota Fashion”, “Open Goverment dan Smart City”, “Jalur Gula dan Potensi Kota Lama”. Diskusi yang berlangsung di Gedung Monod Huis, Kota Lama ini dihadiri ratusan peserta bersama puluhan pemantik lintas disiplin yang berasal baik dari instansi pemerintah, komunitas, seniman hingga warga kampung.

Penampilan solois, Frau (Yogyakarta) dalam pembukaan pameran “Pekakota Hub”, Sabtu (28/10).

Kegiatan ini kemudian berlanjut ke pembukaan pameran yang dilakukan pada hari yang sama. Turut dimeriahkan oleh penampilan musisi, Frau (Yogyakarta) serta Figura Renata. Pameran ini menampilkan visualisai sejarah serta perjalanan 13 tahun Hysteria, merintis sebagai laboratorium kesenian serta aktivitas yang dihasilkan program “Pekakota” selama 5 tahun terakhir. Terdapat 10 seniman maupun kolektif yang merespon pameran ini lewat berbagai karya diantaranya adalah Annisa Rizkiana, Isrol (Medialegal), Andi Meinl, ZOS Crew, Penahitam Semarang dll. Salah satu karya yang dipamerkan yakni “Vernacular Box”, menampilkan karakteristik 8 kampung jejaring Hysteria. Pameran ini masih dapat dikunjungi hingga 18 November mendatang.

“Vernacular Box” yang menampilkan karakteristik 8 kampung jejaring Hysteria.

Terlepas dari kemeriahan acara dan perayaan 13 tahun Hysteria, acara ini benar-benar menjadi refleksi bagi Kolektif Hysteria ke depan. Melakukan jejaring kampung dan mengembangkan anak muda untuk lebih peduli dan mampu berkreasi untuk turut andil membentuk kota Semarang terutama kampung mereka sendiri. (Af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here