Figur Waaraa yang telah direspon seniman dalam pameran "Art Toys Custom Exhibition" (10-14/6).

Pekan ini, salah satu seniman muda Semarang, Galih Pratama (Karamba Art Movement) baru saja menuntaskan pameran karya terbarunya. Bukan dalam bentuk lukisan atau gambar visual, melainkan sebuah figur. Karakter bernama “Waaraa” ini dirilis pada bulan Mei dan sukses dipamerkan dalam acara “Art Toys Custom Exhibition” selama empat hari yakni pada tanggal 10 hingga 14 Juni 2017 kemarin di Sirkel Space (Jl. Jeruk Raya 1, Semarang). Figur berbahan dasar resin kali ini diadaptasi dari makhluk imajiner asal Semarang, Warak Ngendog. Sebelumnya, Karamba meluncurkan karakter perdana bernama “Polar” dan sempat bertengger dalam pameran Urban Toy Stage 2017 di Jakarta.

Kali ini, Karamba merepresentasikan bentuk Warak Ngendog setelah ‘hewan’ yang satu ini banyak mengalami perdebatan oleh tokoh seniman serta budayawan lokal mengenai wujud ‘aslinya’. Menurut budayawan, bentuk Warak menyerupai kambing dengan telur. Warak juga identik dengan budaya Islam Pesisir, hal tersebut diperkuat dengan keterangan ta’mir Masjid Kauman Semarang. Warak sendiri dipercaya merupakan simbol toleransi yang mewakili keragaman etnik yang ada di Semarang yang diwujudkan dalam bentuk kepala Naga (Tionghoa), berbadan Buroq (Arab) dan berkaki Kambing (Jawa).

Berbagai model Waaraa yang telah direspon oleh 23 seniman Tanah Air dipamerkan dalam “Art Toys Custom Exhibition” di Sirkel Space (14/6).

Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai bentuk Warak, Karamba mencoba mengangkat isu tersebut ke ranah budaya populer menggunakan figur yang direspon oleh 23 seniman dari berbagai kolektif seni visual di Tanah Air. Figur polos setinggi 10 sentimeter tersebut cukup menarik khususnya para seniman visual untuk memodifikasi (custom) sesuai dengan imajinasi mereka. Ada yang memodifikasinya dengan mewarnai, menambah dan mengubah bentuk figur menggunakan epoclay hingga memasang benda-benda atau kompartemen figur lain ke dalam Waaraa. Hasilnya sangat menarik!

Salah satu Waaraa yang direspon oleh seniman Dhika Adikara.

Selain pameran, dalam agenda “Art Toys Custom Exhibition” yang bekerjasama dengan Sirkel Space, sebuah ruang alternatif anyar di Semarang, Karamba juga mempertemukan pengunjung dengan beberapa seniman visual dalam agenda talkshow dan workshop selama acara berlangsung. Rencananya, Karamba bekerjasama dengan Osam Toys juga akan mengembangkan Waaraa menjadi properti intelektual dan diaplikasikan dalam wujud animasi, merchandise dan video game.

Mencari tahu bentuk asli Warak Ngendog
Beberapa waktu sebelum pameran ini digelar, berbagai tokoh seniman, pegiat seni, pengerajin Warak serta teman-teman dari Kauman yang tergabung dalam “Forum Seniman Muda Semarang” sempat mengadakan diskusi perkara bentuk asli Warak. Diskusi yang digelar di pelataran kantor Dewan Kesenian Semarang ini mencoba mencari titik temu terlebih setelah adanya seruan dari beberapa tokoh yang ingin mengembalikan bentuk Warak menjadi kambing, seperti yang dinisbatkan pada tulisan Amen Budiman serta dokumentasi Masjid Kauman. Beberapa tokoh senior ini bersikeras untuk mengganti bentuk Warak karena diduga melambangkan etnis tertentu.

Rapat Forum Seniman Muda Semarang dalam membahas bentuk Warak Ngendog (22/5). Foto oleh Arief Hadinata

Dari hasil rapat, forum merasa penggantian atau perubahan bentuk Warak sendiri dapat memicu sentimen rasial dan tidak relevan di era pluralisme sekarang. Apabila tedapat perda mengenai Warak, seyogyanya tidak membatasi bentuk melainkan akomodatif pada hal-hal prisinpil. Selain itu, pengembalian esensi Warak lebih penting ketimbang pengembalian bentuk fisik. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam Warak yakni Ngendit (tali yang sifatnya mengekang hawa nafsu), Ngeden (bentuk menahan diri) dan Ngendog (buah kabajikan). Ketiganya merupakan manifestasi dari pengendalian hawa nafsu selama bulan suci Ramadhan hingga melahirkan kebajikan/pahala yang dipresentasikan dalam wujud endog (telur).

Tidak bentuk pakem sebab pada forum tersebut disepakati jika Warak bukanlah hewan ataupun makhluk mitologi (sebab belum pernah ditemukan situs atau dokumentasi tentang wujudnya) melainkan makhluk hasil kontemplasi dan simbol penyebaran agama islam agar nilai-nilai luhur di dalam Warak lebih mudah dipahami masyarakat (makhluk imajiner). Forum Seniman Muda Semarang juga mendorong supaya pengerajin Warak dan Masjid Kauman tetap membuat Warak sesuai representasi dari gagasan awal sehingga Masjid Kauman yang erat dengan kelahiran Warak Ngendog dapat menjadi rujukan utama dalam hal bentuk dan spirit. Variasi serta representasi bentuk dianggap sebagai kebebasan berekspresi dengan harapan nilai-nilai yang tekandung dalam Warak tetap sama. (Af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here