Peserta diskusi Hari Anti Homophobia dan Transphobia Internasional, Rabu (17/5) di Spiegel Bar & Bistro.

Beberapa waktu lalu, kami sempat mengikuti diskusi dan ngobrol santai memperingati “International Day Against Homophobia and Transphobia” (IDAHOT), Rabu (17/5). Bertempat di Spiegel Bar & Bistro kawasan Kota Lama Semarang, diskusi ini dihadiri puluhan peserta yang berasal dari lintas kolektif dan tentunya anggota forum Rumah Pelangi Indonesia.

IDAHOT sendiri pertama kali diperingati tahun 2004 silam. IDAHOT menjadi momen dimana semua orang dapat memanfaatkannya dengan mengambil tindakan untuk memerangi fobia terhadap keberagaman ekspresi gender, identitas gender dan orientasi seksual. Peringatan IDAHOT jatuh setiap tanggal 17 Mei. Tanggal ini dipilih bertepatan dengan dikeluarkannya putusan resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1990 yang menyatakan bahwa homoseksual/transgen­der merupakan gangguan kejiwaan (bukan penyakit).

Flyer “IDAHOT 2017” di Semarang.

Putusan tersebut dikeluarkan berdasarkan kesepakatan Asosiasi Psikologi/­Psikiatri di seluruh dunia yang lebih dahulu menyatakan bahwa homoseksual maupun transgender sebagai gangguan kejiwaan. Sedangkan di Indonesia sendiri, melalui Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ) III tahun 1993, Kementerian Kesehatan RI juga menyatakan bahwa homoseksual sebagai gangguan kejiwaan. Momen inilah yang dikemudian hari tepatnya tanggal 26-29 Juli 2006, dalam sebuah konferensi International tentang seksualitas di Montreal, Kanada, untuk menetapkan tanggal 17 Mei diperingati sebagai hari melawan Homophobia–Transphobia di seluruh dunia. Adapun tujuan dari peringatan IDAHOT sendiri adalah untuk menarik perhatian Internasional dari pembuat kebijakan, figur berpengaruh, pergerakan sosial, masyarakat umum, dan media agar peduli terhadap kawan-kawan LGBT yang kerap menjadi korban kekerasan dan perlakuan diskriminatif di lingkungan.

Suasana diskusi perayaan “IDAHOT 2017” di Spiegel Bar & Bistro, Semarang (17/5). Foto oleh Frieda Isyana Putri

Di Semarang, perayaan IDAHOT kali ini menghadirkan beberapa narasumber salah satunya adalah Oriel Calosa, Ketua Rumah Pelangi Indonesia. Sebuah forum bagi kawan-kawan LGBT khususnya yang berbasis di Semarang. Melalui diskusi ini, Oriel menyampaikan berbagai pengalaman serta kasus yang dialami oleh beberapa anggotanya seperti diskriminasi, pelecehan dan berbagai penolakan publik atas kehadiran kawan-kawan LGBT di lingkungan. Yang terberat, kawan-kawan yang memiliki orientasi seksual berbeda ini harus menutup diri bahkan dari keluarga mereka masing-masing. “Keluarga saya belum tahu kalo saya lesbian. Eh, adik saya sudah tahu, ding,” ujar salah satu peserta dengan sedikit malu.

Sejauh yang kami amati bahwa kawan-kawan LGBT disini banyak mengalami tekanan terutama di lingkup keluarga. Ketakutan dan kekhawatiran akan penerimaan keberadaan mereka di masyarakat membuat mereka menjadi sangat tertutup. Tak terkecuali di forum ini, karena hanya di forum inilah mereka menjadi sejujur mungkin baik pada diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya meski dalam skala terbatas. Meski berada di lingkungan yang represif, forum Rumah Pelangi Indonesia berusaha untuk memperjuangkan keberagaman gender dan seksualitas kawan-kawan yang berada di bawah naungannya untuk diakui serta mendapat perlakuan yang sama seperti orang-orang pada umumnya. “Sejauh ini, yang sudah kami lakukan adalah mencoba menciptakan ruang yang nyaman untuk kawan-kawan LGBT serta mencoba untuk mengedukasi masyarakat. Kami bekerjasama dengan kampus-kampus di Semarang untuk mengedukasi dan menyampaikan kampanye tentang keberagaman gender dan seksualitas kepada kawan-kawan lain dengan membuat forum diskusi baik secara intern maupun ekstern,” ujar Oriel saat ditemui usai pemutaran film “Mereka Bilang Saya Monyet”, Jumat (19/5) kemarin. (Af)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here